....Wangi Bunga menyebar hanya mengikuti arah angin, tetapi Kebaikan seseorang menyebar ke semua arah.... ....Tegakkan Kebenaran di muka bumi dan tebarkan Kebaikan serta Cinta Kasih kapanpun dan dimanapun kita berada.....
Monday, May 12, 2014
10 Kisah Cinta Paling Indah Romantis Dalam Islam
Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,”
Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,
Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata “Astagfirullah”
Alexander Web, Da’i Pertama di Amerika
2
Alexander Russel Webb merupakan seorang sastrawan dan filsuf Amerika, ia dilahirkan pada tahun 1846 di Hudson, Columbia, negara bagian Amerika Serikat. Webb menerima pendidikan awal di Home School di Glendale, Massachusetts dan kemudian memasuki Claverack College, sekolah tinggi yang maju berdekatan dengan Hudson. Setelah itu ia hijrah ke New York dan meniti karir di kota yang dijuluki Big Apple ini.
Di New York inilah jiwa sastrawan yang memang sudah Webb miliki kian nampak. Ia menggeluti dunia pers dan banyak menulis artikel-artikel yang berpengaruh di hati para pembaca. Para pembaca sangat menanti-nanti tulisannya, terutama karya-karya cerpennya yang terkenal sangat menarik. Totalitas yang ia berikan mengantarkannya ke jabatan teritnggi sebagai ketua dewan redaksi surat kabar tempatnya bekerja.
Di tengah-tengah kesibukan Alexander Webb sebagai seorang jurnalis di Missouri Republican, ia tetap menyempatkan diri mempelajari beberapa agama. Ia mempelajari akidah Yahudi dengan berbagai sekte yang ada pada agama tersebut, mendalami ajaran Nasrani dengan madzhab-madzhabnya, dan mempelajari Islam dengan Alqurannya serta warisan-warisan ilmu yang ada pada Islam. Selain tiga agama besar ini, Alexander Web juga mempelajari ajaran Zoroaster, Konghucu, dan Budha.
Keislaman Alexander Russel Webb
Lama bergelut dengan dunia jurnalistik, nama Alexander Russel Webb pun kian terkenal, baik di kalangan masyarakat biasa maupun di tataran politisi dan pejabat negara. Kemampuannya mempengaruhi massa dan pengalamannya dalam memimpin, menjadi alasan pemerintah Amerika mengangkatnya sebagai perwakilan konsulat Amerika di Filipina pada tahun 1887.
Tak disangka, kepindahannya ke Filipina membawa perubahan yang besar dalam hidupnya. Ia menjadi seorang muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di negara Asia Tenggara tersebut. Setelah itu, Webb menambahkan nama Muhammad di depan nama aslinya sehingga namanya menjadi Muhammad Alexander Russel Webb.
Di awal keislamannya, Webb terjebak dalam ajaran Ahmadiyah karena korespondensinya dengan sahabatnya, seorang penganut Ahmadiyah yang berasal dari India. Seiring waktu berjalan Webb selalu menambah perbendaharaannya tentang Islam dengan membaca dan belajar langsung dari para ulama. Akhirnya ia terbebas dari pemahaman sesat Ahmadiyah.
Sultan Abdul Hamid II, Raja Turki Utsmani di kala itu, turut berbahagia dengan keislaman Webb. Sampai-sampai Sultan mengirim utusan khusus, Abdullah al-Jadawi, untuk bertemu dengannya. Pertemuan tersebut berdampak semakin tersebar luas berita keislaman Alexander Webb, dari sinilah ia mulai menjadi da’i di Amerika Serikat (Mausu’ah at-Tarikhiyah al-Jughrafiyah, 12: 55).
Di Amerika, Alexander Webb memulai dakwahnya dengan menulis sebuah artikel tentang latar belakang memeluk Islam. Ia mengatakan, “Aku menjadikan agama ini sebagai jalan hidupku.
Setelah lama kupelajari beberapa agama, dan kubandingkan satu dengan yang lainnya, kudapati Islam sebagai agama terbaik bahkan ini adalah agama sejatinya. Islam memenuhi apa saja yang dibutuhkan oleh rohani dan jasmani. Di sini aku tekankan, ketika berusia dua puluh tahun, aku merasa jenuh dan depresi dengan kejumudan gereja, lalu kutinggalkan gereja dan tidak kembali lagi ke sana. Aku memiliki jiwa yang kritis, aku selalu meneliti setiap permasalahan yang kuhadapi. Aku juga menyadari bahwa orang-orang sangat lemah usaha dan pemikirannya untuk mengenali hakikat akidah ini.”
Kontribusi Terhadap Islam
Orang pertama yang menyerukan dakwah Islam di negeri Paman Sam adalah Muhammad Alexander Russel Webb. Di New York, Webb membangun sebuah Islamic Center yang memiliki agenda besar dalam menyebarkan Islam di Amerika. Islamic Center ini juga menjadi sumber bantuan untuk mendirikan masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam. Sumber dana utamanya adalah Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari sinilah Islam di Amerika mulai tumbuh di kota-kota lainnya.
Webb adalah wakil utama bagi Islam di konfrensi agama-agama tingkat dunia yang diadakan di Chicago1893. Pada 20 dan 21 September 1893, ia memberikan dua pidato. Pidatonya yang berjudul: Pengaruh Islam Terhadap Keadaan Sosial dan Semangat Islam telah diterbitkan sebanyak dua jilid besar yang diberi judul The First World’s Parliament of Religions(1894).
Selanjutnya ia menjadi juru bicara bagi Islam di Amerika. Banyak pemikir-pemikir terkemuka Amerika yang telah mendengar ucapannya mengenai pokok ajaran Islam di antaranya Mark Twain.
Wafatnya
Muhammad Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dengan usia lebih dari 70 tahun. Seorang penulis yang bernama Umar F. Abdullah menulis sebuah biografi untuk mengenangnya dengan judul A Muslim in Victorian America: The Life of Alexander Russell Webb.
Sumber: ‘Uzhama Aslamu
Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com
Tuesday, December 24, 2013
Yang Membuat Pemuda ini Menangis
Apa yang Membuat Pemuda ini Menangis?
Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.
Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.
Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.
Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.
Saya tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:
Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.
Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?’ ‘Kemana lagi aku harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?’ Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”
Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya.
Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)
Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”
Pelajaran:
Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?
Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.
Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).
Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits)
Artikel www.KisahMuslim.com
Syaikh Al-Albani Naik Sepeda
13
Syaikh al-Albani -rahimahullah- bercerita:
“Setelah aku membeli sebidang tanah di luar kota, karena harga tanah di sana murah, aku langsung membangun sebuah rumah lengkap dengan toko. Setelah semuanya beres, aku baru sadar bahwa jarak antara rumahku dengan perpustakaan azh-Zhahiriyyah yang sering aku kunjungi lumayan jauh. Dahulu aku bekerja satu atau dua jam di tokoku sebelum perpustakaan itu dibuka.
Kemudian aku membeli sebuah sepeda, sementara itu baru pertama kali penduduk kota
Damaskus menyaksikan pemandangan langka seperti ini, yakni seorang Syaikh bersorban naik sepeda. Wajar saja mereka langsung heran dengan pemandangan ini. Dan pada waktu itu juga ada sebuah majalah yang bernama al-Mudhhik al-Mubkî (lucu yang membuat nangis), yang diterbitkan oleh seorang nasrani. Ternyata dia memasukkan pengalaman ini di majalahnya. Tetapi aku tidak peduli dengan hal remah seperti ini, karena yang paling penting bagiku adalah waktu.”
Sumber: Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 47, hlm.51
Syair Rindu Istri Shalehah
0
Jarir bin Hazim berkata dari Ya’la bin Hakim, dari Sa’id bin Jubair. Sa’id mengatakan, “Jika sudah tiba petang hari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu biasa berkeliling Kota Madinah. Jika melihat sesuatu yang harus diingkari, maka dia mengingkarinya. Suatu malam tatkala sedang meronda, dia melewati seorang wanita di rumahnya yang berkata,
Malam ini terasa panjang dan gelap gulita
Hatiku pilu karena tiada kekasih mendampingi
Andaikan bukan karena Allah yang tiada Rabb selain-Nya
Tentu masih ada kehidupan di ranjang ini
Aku takut kepada-Nya dan ada rasa malu menghantui
Kan kujaga kehormatan suami semoga dia cepat kembali
Setelah itu wanita tersebut menghela nafas dalam-dalam, seraya berkata, “Mestinya apa yang kualami pada malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi Umar bin Khattab.”
Umar mengetuk pintu rumah wanita tersebut. “Siapa yang mengetuk pintu rumah wanita yang ditinggal pergi suaminya malam-malam seperti ini?” Wanita itu bertanya.
“Bukakan pintu!” kata Umar. Namun wanita itu menolak.
“Demi Allah, andaikata Amirul Mukminin mengetahui tindakanmu ini, tentu dia akan menghukummu.” Kata wanita itu setelah berkali-kali Umar meminta untuk dibukakakn pintu.
Setelah tahu kehormatan yang dijaga wanita itu, Umar berkata, “Aku adalah Amirul Mukminin.”
“Engkau pembohong. Engkau bukanlah Amirul Mukminin.”
Umar mengeraskan dan meperjelas suaranya, sehingga akhirnya wanita itu tahu bahwa memang dia adalah Umar. Maka dia membukakannya pintu.
“Wahai wanita, apa yang telah kau ucapkan tadi?” Tanya Umar.
Wanita itu mengulang lagi apa yang dia katakan. “Mana suamimu?” Tanya Umar.
“Ikut bergabung dalam pasukan perang ini dan itu.” Jawabnya.
Selanjutnya Umar mengutus seorang kurir agar Fulan bin Fulan (suami wanita itu) pulang dari medan perang. Setelah benar-benar kembali, Umar berkata kepadanya, “Temuilah istrimu!”
Kemudian Umar menemui putrinya, Ummul Mukminin Hafshah radhiallahu ‘anha, kemudian bertanya, “Wahai putriku, berapa lamakah seorang wanita tahan berpisah dengan suaminya?”
“Bisa sebulan, dua bulan, atau tiga bulan. Setelah empat bulan dia tak mampu lagi bersabar.” Jawab Hafshah.
Maka selanjutnya jangka waktu itu menjadi ukuran lamanya pengiriman pasukan ke medan perang. Hal ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan Allah dalam m.asalah ila’ (ila’: suami bersumpah untuk tidak mencampuri istrinya selama empat bulan atau lebih). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa kesabaran wanita bisa menipis setelah empat bulan dan tidak mampu lagi bersabar setelah jangka waktu itu. Maka jangka waktu empat bulan itulah yang ditetapkan bagi laki-laki yang meng-ila’. Setelah masa itu, dia bisa menyuruh istrinya untuk memilih tetap mempertahankan perkawinan atau cerai. Setelah empat bulan, tentu kesabarannya menjadi melemah, sebagaimana yang dikatakan penyair,
Tatkala kuseru tangis dan kesabaran
Setelah di antara kita ada perpisahan
Dengan patuh tangis memberi jawaban
Dan tiada jawaban dari kesabaran
Sumber: Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Mustaqin oleh Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah
Pengaruh Teman Dalam Kehidupan
3
Pelajaran dari kisah persahabatan antara Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan persahabatan antara Ubaidullah bin Ziyad dengan Syamr bin Dzi al-Jausyan.
——————————————————————————————————————————————–
Islam sangat menaruh perhatian besar dalam masalah sosial, di antaranya dalam masalah pergaulan atau pertemanan. Islam menekankan agar seseorang memilih teman-teman yang baik, agar pengaruh baiknya membekas pada dirinya. Ketika seseorang berteman dengan seseorang yang shaleh, maka ia akan melihat adab-adab yang mulia, perkataan-perkataan santun dan baik, dan nasihat-nasihat pun akan keluar dari mulut sang teman apabila temannya yang lain melakukan sesuatu yang tidak diridhai Allah. Perumpamaan pertemanan seperti ini telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,
Dari Abu Musa radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ
مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk (sepergaulan) yang buruk adalah seperti pembawa misk (minyak wangi) dan pandai besi. Si pembawa misk mungkin akan memberimu (minyak wangi) atau engkau membeli minyak itu darinya atau engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu dapati bau yang busuk darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sedangkan teman yang buruk akan mendorong kita melakukan keburukan-keburukan atau batas minimalnya kita akan terbiasa melihat perbuatan maksiat, dan menghilangkan kebencian kita terhadap perbuatan dosa. Pertemanan seperti ini adalah perteman yang semu, semu di dunia ini, tidak langgeng, dan akan saling memusuhi di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu (hari kiamat) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa”. (QS. Az-Zukhruf: 67).
Berikut ini kita akan mengambil pelajaran dari perteman Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik dengan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sebagai contoh pertemanan yang baik, yang membawa pahala, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dan yang lainnya adalah pertemanan Pemimpin Irak, Ubaidullah bin Ziyad bersama teman dekatnya Syamr bin Dzi al-Jausyan, sebagai contoh pertemanan yang buruk, yang saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan kemaksiatan, serta mendekatkan keduanya kepada murka Allah.
Pertama, pertemanan Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik dengan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz rahimahumallahu.
Saat Sulaiman bin Abdul Malik menjadi khalifah, ia mendekati orang-orang yang shaleh untuk ia jadikan teman dekat yang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Di antara orang tersebut adalah gubernurnya Umar bin Abdul Aziz. Sulaiman menjadikan Umar sebagai teman dekat dengan beberapa alasan:
- Kepribadian Sulaiman sangat berbeda dengan saudaranya, al-Walid bin Abdul Malik, kahlifah sebelumnya. Al-Walid adalah seorang yang ujub, bangga terhadap dirinya sendiri, hanya percaya pada pendapatnya sendiri, sedangkan Sulaiman adalah seorang yang rendah hati, tidak ujub dan tidak membangga-banggakan dirinya.
- Sulaiman meyakini bahwa Umar mempunyai pendapat-pendapat yang benar dan lurus.
- Rasa terima kasih Sulaiman kepada sikap Umar tatkala al-Walid hendak menyingkirkan dirinya. Hal ini menimbulkan kedekatan secara personal di antara mereka berdua.
Ketika Sulaiman naik tahta menjadi khalifah, ia tidak melupakan kerabat sekaligus teman dekatnya Umar bin Abdul Aziz. Ia sering meminta nasihat dan tidak berkeberatan apabila diingatkan ketika pendapatnya tidak membuat maslahat.
Di antara contohnya Umar mempengaruhi Sulaiman untuk membuat kebijakan agar masyarakat menegakkan shalat tepat pada waktunya, dan jangan sampai aktivitas mereka melalaikan dari ibadah yang agung ini (Atsar al-Ulama fi al-Hayah as-Siyasiyah, Hal. 170). Umar memberi masukan kepada Sulaiman terhadap Hajjaj bin Yusuf dan kroni-kroninya agar meerka dibatasi dan tidak bertindak sewenang-wenang (Atsar al-Ulama fi al-Hayah as-Siyasiyah, Hal: 169).
Sulaiman bin Abdul Malik juga terbuka dan menerima kritik. Umar bin Abdul Aziz mengkritik Sulaiman terkait surat wasiat Khalifah Abdul Malik tentang hak waris putri-putrinya. Sulaiman hendak melaksanakan wasiat sang ayah, Abdul Malik, yang menyatakan putri-putrinya tidak mendapatkan warisan.
Lalu Umar menyanggahnya, kata Umar, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau meminta kitab Allah (sebagai putusan yang adil)?” Saat itu Ayyub bin Sulaiman menanggapi perkataan Umar, “Apakah salah seorang diantara kalian tidak takut mengucapkan kata-kata yang karenanya lehernya dipenggal?” Maka Umar menanggapi, “Jika perkara ini diserahkan ke tanganmu, maka apa yang menimpa kaum muslimin lebih besar daripada apa yang engkau katakan.” Sulaiman lalu membela Umar dan memarahi Ayyub (Sirah Umar bin Abdul Aziz, Hal: 31).
Suatu hari, Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Mdinah, ia membagi-bagikan harta dalam jumlah yang besar kepada penduduk Madinah. Lalu ia bertanya kepada Umar, “Apa pendapatmu tentang apa yang telah kami lakukan wahai Abu Hafsh (kun-yah Umar)?” Umar menjawab, “Aku melihatmu membuat orang kaya semakin kaya dan membiarkan orang-orang miskin dengan kemiskinannya.” (at-Tarikh al-Islami, 15: 30-31).
Umar mengkritik sedekah yang dilakukan Sulaiman karena tidak tepat sasaran, dan penting bagi khalifah untuk membedakan antara sekedar berbuat baik biasa degan berbuat baik dengan cara tepat sasaran sehingga memiliki manfaat yang jauh lebih besar.
Di hari Arafah, Sulaiman dan Umar wukuf di Arafah. Sulaiman merasa bahagia dengan banyaknya umat Islam yang berkumpul memenuhi panggilan Allah. Saat itu Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya, “Mereka adalah rakyatmu hari ini, tetapi besok kamu akan ditanya tentang mereka.”
Dalam riwayat lain, “Mereka adalah orang-orang yang akan menuntutmu di hari kiamat.” Tiba-tiba Sulaiman menangis, nasihat Umar benar-benar menghujam di dadanya, ia berkata, “Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 685).
Inilah profil pertemanan yang bermanfaat, pertemanan yang saling mengajak kepada kebaikan, bahkan sebelum wafatnya Sulaiman menunjuk Umar sebagai khalifah agar amanah kepemimpinannya bisa meringankannya.
Berikutnya adalah contoh pertemanan yang buruk. Teman yang buruk akan mengajak temannya melakukan perbuatan dosa dan menjauhkannya dari Allah Ta’ala. Pertemanan antara Ubaidullah bin Ziyad dan Syamr bin Dzi al-Jausyan.
Di dalam Huqbah min at-Tarikh dikisahkan, saat terjadi kekacauan di masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah, dimana Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah, hendak berangkat menuju Kufah (kota di Irak) untuk menyambut undangan penduduk Kufah yang siap membaiatnya sebagai khalifah.
Saat Husein hampir tida di Kufah, ia dicegat oleh pasukan-pasukan Kufah atas perintah Ubaidullah bin Ziyad. Awalnya Ubaidullah hanya akan melakukan apa yang Yazid perintahkan, yakni supaya Husein tidak memasuki Kufah demi menghindari terjadinya fitnah. Husein pun akhirnya menyadari bahwa penduduk Kufah telah menghianatinya, Husein mengajukan beberapa pilihan kepada pasukan Kufah; membiarkannya pulang ke Mekah atau Madinah, pergi menemui Yazid di Syam, atau membiarkannya pergi menuju daerah perbatasan. Saat keinginan ini disampaikan kepada Ubaidullah, ia menuruti apa yang diinginkan Husein, dan menghormatinya sebagai keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun apa yang baru saja diucapkan Ubaidullah seketika menjadi berubah saat mendengar masukan dari Syamr bin Dzi al-Jausyan. Kata Syamr, “Engkau seorang pemimpin, tapi dia (Husein) yang menentukan? Aneh sekali.” Lalu Syamr menyarankan, “Bawa dia kemari sebagai tahanan, lalu engkau yang tentukan setelah itu.”
Akhirnya pasukan diperintahkan untuk menahan Husein, dan membawanya ke Irak sebagai tahanan. Husein yang tidak menerima hal itu, karena seorang muslim memang tidak boleh dijadikan tawanan oleh muslim lainnya, terlebih dia adalah satu-satunya cucu Rasulullah yang hidup di muka bumi ini, kekerabatannya dengan Rasulullah sangatlah dekat, dan Rasulullah memerintahkan umatnya agar berbuat baik kepada keluarganya. Namun Ubaidullah sudah terlalu gelap untuk menerima hukum-hukum tersebut, pasukannya pun –yang terdiri dari orang-orang yang berhianat kepada Husein- menerima perintah tanpa memikirkan siapa yang mereka hadapi. Akhirnya Husein radhyiallahu ‘anhu terbunuh.
Inilah pengaruh teman yang buruk, sampai-sampai bisa melakukan kesalahan yang sangat fatal. Tidak hanya membuat gelap mata seseorang dari kemaksiatan-kemaksiatan kecil bahkan dosa besar pun tidak dirasakan lagi, dosa membunuh orang yang termasuk kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, hendaknya kita memilih teman-teman yang baik, yang menjauhkan kita dari bahaya dan perbuatan dosa. Dan mencari teman-teman yang shaleh, yang mempengaruhi kita untuk semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Monday, November 11, 2013
Kisah Unik Mencari Buku Kuno
Kisah Unik Mencari Buku Kuno
(The Real Book Lover)
Hamba yang lemah, penulis buku ini berkata, “Pada masa-masa mencari
ilmu, aku hidup kekurangan seperti para penuntut ilmu lainnya. Aku
membeli buku-buku yang bisa aku beli dengan menyisihkan uang sakuku yang
tak seberapa, baik dengan cara kontan maupun cicilan jika memungkinkan.
Suatu hari aku melihat sebagian buku langka yang sangat penting bagiku.
Aku berhasrat memilikinya, akan tetapi aku sedang dalam kemiskinan yang
sangat. Sehingga tidak ada jalan untuk membelinya. Hati dan pikiranku
tidak tenang karenanya. Maka, aku menjual syal warisan dari bapakku,
semoga Allah merahmatinya, di Pasar Al-Harraj, lalu aku membeli
buku-buku tersebut. Setelah membelinya, hati dan pikiranku menjadi
tenang. Aku sangat bahagian bisa membeli dan memilikinya. Kebahagiaanku
itu melupakan diriku dari lenyapnya syal milikku. Segala puji bagi
Allah.
Terkadang aku bernadzar kepada Allah untuk menunaikan shalat sekiat rakaat jika aku mendapatkan buku tertentu. Aku pernah mengalami suatu peristiwa dalam urusan berburu buku. Aku mencatatnya di sini karena keunikannya, berikut ini kisahnya:
Ketika aku masih di Kairo menjadi mahasiswa pada Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, syaikh kami, Al-Allamah Imam Muhammad Zahid Al-Kautsari mewasiatkan kepadaku di sela-sela aku mengikuti kajian-kajiannya, agar aku memiliki buku Fath Babil Inayah bi Syarh Bukuin Nuqayah, karya Al-Allamah Syaikh Ali Al-Qari. Ia berulang-ulang mendorongku dengan sangat agar aku mendapatkan buku tersebut, karena ia mengetahui bahwa aku penggemar buku-buku langka yang bermanfaat. Aku menduga bahwa buku ini dicetak di India. Aku tinggal di Kairo selama 6 tahun sampai aku menyelesaikan kuliahku. Selama itu pula aku bertanya tentang buku tersebut.
Aku mencarinya di semua perpustakaan yang aku perkirakan buku itu ada padanya. Akan tetapi, aku tidak menemukan informasi atau jejak apa pun tentangnya.
Ketika aku pulang ke kotaku Halb, aku terus mencari buku tersebut di setiap kota yang aku kunjungi atau perpustakaan yang aku datangi. Karena aku menduganya dicetak di India, sementara ia termasuk buku-buku fiqih ulama Hanafi, maka aku bertanya kepada para penjual buku-buku cetakan India dalam masalah fiqih Hanafi secara Umum. Siapa tahu aku berhasil mendapatkannya dengan cara ini, karena bisa jadi mereka tidak mengetahui namanya. Di Damaskus terdapat banyak penjual buku kuno yang, tentunya mereka mengenali banyak buku kuno yang berharga. Mereka juga mempunyai banyak koleksi buku-buku kuno tersebut. Hanya saja mereka telah meninggikan harganya dan mempersulit penjualannya. Di antara mereka adalah Sayyid Azzat Al-Qushaibati dan bapaknya, Syaikh Hamdi As-Safarjali, dan Sayyid Ahmad Ubaid.
Aku bertanya kepada Sayyid Azzat Al-Qaushaibati tentang buku Fath Babil Inayah yang merupakan cetakan India. Ia menjawab, “Buku itu ada padaku.” Ia mengeluarkan buku Al-Binayah bi Syarhil Hidayah, karya Imam Al-Aini yang dicetak di India sejak satu abad yang lalu, yaitu tahun 1293 H, dalam 6 jilid yang sangat besar sekali. Buku ini termasuk buku-buku langka lagi berharga yang aku cari. Maka, aku membelinya dengan harga yang tidak mahal. Pasalnya, ia bukanlah buku yang aku maksudkan di awal, yang aku sebutkan namanya.
Kemudian aku bertanya kepada Syaikh Hamdi As-Safarjali tentang buku tersebut. Darinya aku mengetahui bahwa buku itu dicetak di Qazan, sebuah kota di Rusia, dan sebagaimana dikatakan bahwa ia lebih langka daripada kibrit ahmar (emas merah). Sepanjang hidup Syaikh dan kesibukannya dengan buku-buku, ia hanya memegang satu set dari buku tersebut. Ia telah menjualnya kepada Al-Allamah Al-Kautsari dengan harga paling mahal yang tidak terbayangkan. Pada saat itu juga aku mengetahui nama kota di mana buku tersebut dicetak. Harapanku untuk mendapatkannya semakin menipis!
Tatkala Allah memberiku kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke rumah-Nya yang mulia pada tahun 1376 H. Pada saat memasuki Mekah Al-Mukarramah, aku berkeliling menanyakan buku tersebut di perpustakaan-perpustakaan yang ada di sana, dengan harapan, aku bisa mendapatkannya. Apalagi di sini banyak orang yang datang dari penjuru negeri, berharap mereka memiliki inforamsi, namun ternyata belum ada hasil.
Kemudian inayah Allah membawaku kepada seorang kolektor buku kuno yang terletak di sudut sebuah pasar sederhana di Mekah Al-Mukarramah. Ia adalah Syaikh Mushthafa bin Muhammad Asy-Syinqithi, semoga Allah menyeleamatkannya. Aku membeli beberapa buku darinya.
Aku bertanya kepadanya – dengan penuh keputusasaan – tentang buku tersebut. Ia mengatakan kepadaku, “Buku itu ada padaku selama satu minggu. Aku membelinya dari warisan seorang ulama Bukhara. Lalu, aku menjualnya kepada seorang laki-laki dari Bukhara pula, ia termasuk ulama dari daerah Thasyqand, dengan harga yang lumayan tinggi.” Aku hampir tak mempercayainya, hingga ia menjelaskan ciri-cirinnya dengan penjelasan yang membuktikan bahwa ia benar-benar mengetahui buku tersebut. Memang itulah buku yang aku buru dan aku cari sejak beberapa tahun terakhir ini.
Aku bertanya, “Siapa ulama Thasyqand yang membeli buku tersebut?” Si kolektor buku kuno itu mulai mengingat-ingat. Lalu, ia menyebut sebuah nama keapdaku, yaitu Syaikh Inayatullah Ath-Thasyqandi. Aku bertanya, “Di mana ia tinggal, atau tempat kerjanya, atau di mana aku bisa menemuinya?” Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana aku bertanya tentangnya?” Ia menjawab, “Tidak tahu.” Pada saat itu keputusasaanku untuk mendapatkannya atau untuk bertemu dengan pembeli semakin bertambah.
Setelah itu aku pergi bertanya tentang Syaikh Inayatullah kepada setiap orang Bukhara yang aku lihat di Masjidil Haram, atau pasar-pasar Mekah. Aku pergi ke madrasah-madrasah dan perkumpulan-perkumpulan yang katanya ada orang-orang Bukhara di sana, untuk menanyakan tentang Syaikh dari Bukhara tersebut. Bahkan, aku sampai pergi ke komplek-komplek perumahan yang ada di luar Mekah, ketika ada yang mengatakan kepadaku bahwa di sana ada orang-orang Bukhara. Namun, pertemuan dengan syaik yang aku harapkan tidak kunjung terwujud? Berapa banyak orang-orang Bukhara yang bernama Inayatullah di Mekah Al-Mukarramah?
Pencarian yang terus-menerus membawaku kepada Syaikh Abdul Qadir Ath-Thasyqandi Al-Bukhari As-Sa’athi di kompleks perumahan Jarwal di pinggiran Mekah. Aku bertanya kepadanya tentang Syaikh Ath-Thasyqandi. Ternyata ia mengenalnya dan menyebutkan nama aslinya kepadaku, yaitu Syaikh Mir Inayah Ath-Thasyqandi. Hanya saja ia tidak mengetahui tempat tinggalnya atau di mana bisa bertemu dengannya. Pada saat itu, aku benar-benar putus asa untuk bertemu dengan Syaikh yang memiliki buku Fath Babil Inayah.
Pada saat thawaf di Ka’bah yang agung, semoga Allah menambah kemuliaan dan keagungannya, aku selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar membimbingku kepada orang yang kutuju dan memudahkanku memiliki buku tersebut. Aku terus mengulang-ulang doa dan permintaanku berkali-kali. Satu minggu telah berlalu – dan Allah Maha Mengetahuinya –, sementara pikiranku tidak pernah tentang terkait dengan pencarianku terhadap buku tersebut dan pemiliknya.
Sampai pada suatu hari, saat aku berjalan di Pasar Pintu Ziyadah dari pintu-pintu Masjidil Haram, seorang pedagang Damaskus yang lama tinggal di Mekah melihatku. Ia bernama Abu Arab. Ia memiliki tempat berdagang di sana sebelum perluasan Al-Haram. Ia pun memanggilku ke tempat berdagangnya saat melihatku berpenampilan dan berpakaian ala negeri Syam. Ia menanyakan kepadaku tentang negeri Syam dan penduduknya. Aku balik bertanya kepadanya – ia adalah seorang saudagar dari kota Damaskus, Syam – karena aku benar-benar menginginkan buku itu, yakni tentang syaikh dari Bukhara tersebut! Ia mengatakan kepadaku bahwa menantu Syaikh itu adalah suami dari anak perempuannya, yang ada di kios depan itu. Ia orang yang paling tahu tentangnya. Demi Allah, aku hampir-hampir tak mempercayainya hal itu karena saking bahagia dan gembiranya.
Aku segera pergi menemui si menantu Syaikh itu, lalu bertanya kepadanya tentang sang Syaikh. Ia merasa heran, dan balik bertanya kepadaku, “Apa yang membuatmu bertanya tentang beliau dan hendak menemuinya?” Kujawab, “Lebih dari seminggu ini, aku terus mencari sang Syaikh. Tunjukkanlah kepadaku di mana beliau, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
Ia menunjukkan kepadaku rumah sang Syaikh yang berada di kompleks perumahan Al-Misfalah, di samping Qahwas Saqifah. Aku segera pergi menemui sang Syaikh berkali-kali, baik siang maupun malam, hingga aku bisa bertemu dengannya. Akhirnya, ia rela menjual buku tersebut kepadaku sesuai harga yang ia pilih dan ia inginkan. Bagiku, itu merupakan salah satu kebahagiaan sepanjang hidupku.
Allah telah memberiku nikmat, sehingga aku bisa menerbitkan juz pertama dari buku tersebut disertai revisinya. Aku memohon kepada Allah agar tetap memberiku nikmat, sehingga aku bisa menerbitkan sisanya dengan karunia dan kemuliaan-Nya.
Aku tutup pembahasan ini dengan menampilkan dua kisah secara komplit. Mayoritas pembahasan sebelumnya, telah tercakup dalam dua kisah ini. Oleh karena itu, aku mencantukannya di akhir lembaran-lembaran buku ini, karena kedua kisah tersebut telah masuk dalam mayoritas pembahasan sebelumnya.
Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Cetakan:1: 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)