Monday, May 12, 2014

10 Kisah Cinta Paling Indah Romantis Dalam Islam










1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra


Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.
Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”

2. Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,”
Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, “Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!”


3. Abdurrahman ibn Abu Bakar


Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.
Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:
Demi Allah, tidaklah aku melupakanmuWalau mentari tak terbit meninggiDan tidaklah terurai air mata merpati ituKecuali berbagi hatiTak pernah kudapati orang sepertikuMenceraikan orang seperti diaDan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanyaDia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan MuhammadBerbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya
Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.

4. Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid

Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa: Rasulullah Saw. Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.

Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.”


Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.
Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw. kepada Khadijah. Subhanallah.

5. Rasulullah Saw. dan Aisyah


Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.
Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.
Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”
Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.


6. Thalhah ibn ‘Ubaidillah


Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah.
Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”
Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”
Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”
Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.



7. Kisah cinta yang membawa surga


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’.
Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan.
Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.’
Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.’
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo’akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”
Dia menjawab, “Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”
Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah kau menuju?” Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”
Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Dia jawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”
Si pemuda bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: “Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.
Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar.


8. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,
“Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?”
“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu Thalhah.
 “Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim tandas.
“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.
“Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas Ummu Sulaim.
Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”
Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, “Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.”
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, “Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.” Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.



 9. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel

Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata “Astagfirullah”
Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. “Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini”.
Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam wr.wb.”. Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.
Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai.
“Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua”. tanya pemuda itu.
Lalu pak tua itu menjawab. “Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?”
Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan.”Baiklah pak, saya mau.”
Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.
“Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?”
Pak tua itu diam sejenak. “Belum.”
Pemuda itu terhenyak. “Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu.”
“Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi.”
“Apa itu pak tua?”
“Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?”
“Ya, aku mau.” jawab pemuda itu.
Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. “Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?”
Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak…dia akan menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.
“Baiklah pak, aku mau.”
Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.
“Ayahanda…siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?”
Pak tua itu tersenyum dan menjawab. “Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu.”
Pemuda itu tampak bingung. “Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?
Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?”
Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. “Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat.”
Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: “Subhanallah…..”
Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.


 10. Zulaikha dan Yusuf As.


Cinta Zulaikha kepada Yusuf As. konon begitu dalam hingga Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Swt. Berikut sedikit ulasan tentang cinta mereka
Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.
Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.
Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya.”
Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.
Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan.


Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya: “Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia.”
Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf a.s. Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?”
Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?”
Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.

Alexander Web, Da’i Pertama di Amerika


Alexander Web, Da’i Pertama di Amerika2
Alexander Russel Webb merupakan seorang sastrawan dan filsuf Amerika, ia dilahirkan pada tahun 1846 di Hudson, Columbia, negara bagian Amerika Serikat. Webb menerima pendidikan awal di Home School di Glendale, Massachusetts dan kemudian memasuki Claverack College, sekolah tinggi yang maju berdekatan dengan Hudson. Setelah itu ia hijrah ke New York dan meniti karir di kota yang dijuluki Big Apple ini.


Di New York inilah jiwa sastrawan yang memang sudah Webb miliki kian nampak. Ia menggeluti dunia pers dan banyak menulis artikel-artikel yang berpengaruh di hati para pembaca. Para pembaca sangat menanti-nanti tulisannya, terutama karya-karya cerpennya yang terkenal sangat menarik. Totalitas yang ia berikan mengantarkannya ke jabatan teritnggi sebagai ketua dewan redaksi surat kabar tempatnya bekerja.


Di tengah-tengah kesibukan Alexander Webb sebagai seorang jurnalis di Missouri Republican, ia tetap menyempatkan diri mempelajari beberapa agama. Ia mempelajari akidah Yahudi dengan berbagai sekte yang ada pada agama tersebut, mendalami ajaran Nasrani dengan madzhab-madzhabnya, dan mempelajari Islam dengan Alqurannya serta warisan-warisan ilmu yang ada pada Islam. Selain tiga agama besar ini, Alexander Web juga mempelajari ajaran Zoroaster, Konghucu, dan Budha.


Keislaman Alexander Russel Webb


Lama bergelut dengan dunia jurnalistik, nama Alexander Russel Webb pun kian terkenal, baik di kalangan masyarakat biasa maupun di tataran politisi dan pejabat negara. Kemampuannya mempengaruhi massa dan pengalamannya dalam memimpin, menjadi alasan pemerintah Amerika mengangkatnya sebagai perwakilan konsulat Amerika di Filipina pada tahun 1887.


Tak disangka, kepindahannya ke Filipina membawa perubahan yang besar dalam hidupnya. Ia menjadi seorang muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di negara Asia Tenggara tersebut. Setelah itu, Webb menambahkan nama Muhammad di depan nama aslinya sehingga namanya menjadi Muhammad Alexander Russel Webb.


Di awal keislamannya, Webb terjebak dalam ajaran Ahmadiyah karena korespondensinya dengan sahabatnya, seorang penganut Ahmadiyah yang berasal dari India. Seiring waktu berjalan Webb selalu menambah perbendaharaannya tentang Islam dengan membaca dan belajar langsung dari para ulama. Akhirnya ia terbebas dari pemahaman sesat Ahmadiyah.


Sultan Abdul Hamid II, Raja Turki Utsmani di kala itu, turut berbahagia dengan keislaman Webb. Sampai-sampai Sultan mengirim utusan khusus, Abdullah al-Jadawi, untuk bertemu dengannya. Pertemuan tersebut berdampak semakin tersebar luas berita keislaman Alexander Webb, dari sinilah ia mulai menjadi da’i di Amerika Serikat (Mausu’ah at-Tarikhiyah al-Jughrafiyah, 12: 55).
Di Amerika, Alexander Webb memulai dakwahnya dengan menulis sebuah artikel tentang latar belakang memeluk Islam. Ia mengatakan, “Aku menjadikan agama ini sebagai jalan hidupku. 

Setelah lama kupelajari beberapa agama, dan kubandingkan satu dengan yang lainnya, kudapati Islam sebagai agama terbaik bahkan ini adalah agama sejatinya. Islam memenuhi apa saja yang dibutuhkan oleh rohani dan jasmani. Di sini aku tekankan, ketika berusia dua puluh tahun, aku merasa jenuh dan depresi dengan kejumudan gereja, lalu kutinggalkan gereja dan tidak kembali lagi ke sana. Aku memiliki jiwa yang kritis, aku selalu meneliti setiap permasalahan yang kuhadapi. Aku juga menyadari bahwa orang-orang sangat lemah usaha dan pemikirannya untuk mengenali hakikat akidah ini.”


Kontribusi Terhadap Islam


Orang pertama yang menyerukan dakwah Islam di negeri Paman Sam adalah Muhammad Alexander Russel Webb. Di New York, Webb membangun sebuah Islamic Center yang memiliki agenda besar dalam menyebarkan Islam di Amerika. Islamic Center ini juga menjadi sumber bantuan untuk mendirikan masjid dan perpustakaan-perpustakaan Islam. Sumber dana utamanya adalah Daulah Utsmaniyah yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Dari sinilah Islam di Amerika mulai tumbuh di kota-kota lainnya.


Webb adalah wakil utama bagi Islam di konfrensi agama-agama tingkat dunia yang diadakan di Chicago1893. Pada 20 dan 21 September 1893, ia memberikan dua pidato. Pidatonya yang berjudul: Pengaruh Islam Terhadap Keadaan Sosial dan Semangat Islam telah diterbitkan sebanyak dua jilid besar yang diberi judul The First World’s Parliament of Religions(1894).
Selanjutnya ia menjadi juru bicara bagi Islam di Amerika. Banyak pemikir-pemikir terkemuka Amerika yang telah mendengar ucapannya mengenai pokok ajaran Islam di antaranya Mark Twain.


Wafatnya


Muhammad Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dengan usia lebih dari 70 tahun. Seorang penulis yang bernama Umar F. Abdullah menulis sebuah biografi untuk mengenangnya dengan judul A Muslim in Victorian America: The Life of Alexander Russell Webb.


Sumber: ‘Uzhama Aslamu
Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Tuesday, December 24, 2013

Yang Membuat Pemuda ini Menangis

 

pemuda yang sedih hatinya         

 

Apa yang Membuat Pemuda ini Menangis?

Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.

 

Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.

 

Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.

 

Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.

 

Saya tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:

 

Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.

 

Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?’ ‘Kemana lagi aku harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?’ Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”

 

Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya.

 

Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah,

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)

 

Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”

Pelajaran:

Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

 

Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.

 

Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,

 

أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟

 

“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”

 

Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:

 

الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها

 

“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).

 

Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits)

Artikel www.KisahMuslim.com

Syaikh Al-Albani Naik Sepeda

 

syaikh-albani-naik-sepeda2 13

 

Syaikh al-Albani -rahimahullah- bercerita:

 

“Setelah aku membeli sebidang tanah di luar kota, karena harga tanah di sana murah, aku langsung membangun sebuah rumah lengkap dengan toko. Setelah semuanya beres, aku baru sadar bahwa jarak antara rumahku dengan perpustakaan azh-Zhahiriyyah yang sering aku kunjungi lumayan jauh. Dahulu aku bekerja satu atau dua jam di tokoku sebelum perpustakaan itu dibuka.

 

Kemudian aku membeli sebuah sepeda, sementara itu baru pertama kali penduduk kota

Damaskus menyaksikan pemandangan langka seperti ini, yakni seorang Syaikh bersorban naik sepeda. Wajar saja mereka langsung heran dengan pemandangan ini. Dan pada waktu itu juga ada sebuah majalah yang bernama al-Mudhhik al-Mubkî (lucu yang membuat nangis), yang diterbitkan oleh seorang nasrani. Ternyata dia memasukkan pengalaman ini di majalahnya. Tetapi aku tidak peduli dengan hal remah seperti ini, karena yang paling penting bagiku adalah waktu.”

 

Sumber: Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 47, hlm.51

Syair Rindu Istri Shalehah

 

being alone 0

 

Jarir bin Hazim berkata dari Ya’la bin Hakim, dari Sa’id bin Jubair. Sa’id mengatakan, “Jika sudah tiba petang hari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu biasa berkeliling Kota Madinah. Jika melihat sesuatu yang harus diingkari, maka dia mengingkarinya. Suatu malam tatkala sedang meronda, dia melewati seorang wanita di rumahnya yang berkata,

 

Malam ini terasa panjang dan gelap gulita


Hatiku pilu karena tiada kekasih mendampingi


Andaikan bukan karena Allah yang tiada Rabb selain-Nya


Tentu masih ada kehidupan di ranjang ini

 

Aku takut kepada-Nya dan ada rasa malu menghantui


Kan kujaga kehormatan suami semoga dia cepat kembali

 

Setelah itu wanita tersebut menghela nafas dalam-dalam, seraya berkata, “Mestinya apa yang kualami pada malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi Umar bin Khattab.”

 

Umar mengetuk pintu rumah wanita tersebut. “Siapa yang mengetuk pintu rumah wanita yang ditinggal pergi suaminya malam-malam seperti ini?” Wanita itu bertanya.

 

“Bukakan pintu!” kata Umar. Namun wanita itu menolak.

 

“Demi Allah, andaikata Amirul Mukminin mengetahui tindakanmu ini, tentu dia akan menghukummu.” Kata wanita itu setelah berkali-kali Umar meminta untuk dibukakakn pintu.

Setelah tahu kehormatan yang dijaga wanita itu, Umar berkata, “Aku adalah Amirul Mukminin.”

 

“Engkau pembohong. Engkau bukanlah Amirul Mukminin.”

 

Umar mengeraskan dan meperjelas suaranya, sehingga akhirnya wanita itu tahu bahwa memang dia adalah Umar. Maka dia membukakannya pintu.

 

“Wahai wanita, apa yang telah kau ucapkan tadi?” Tanya Umar.

 

Wanita itu mengulang lagi apa yang dia katakan. “Mana suamimu?” Tanya Umar.

 

“Ikut bergabung dalam pasukan perang ini dan itu.” Jawabnya.

 

Selanjutnya Umar mengutus seorang kurir agar Fulan bin Fulan (suami wanita itu) pulang dari medan perang. Setelah benar-benar kembali, Umar berkata kepadanya, “Temuilah istrimu!”

 

Kemudian Umar menemui putrinya, Ummul Mukminin Hafshah radhiallahu ‘anha, kemudian bertanya, “Wahai putriku, berapa lamakah seorang wanita tahan berpisah dengan suaminya?”

“Bisa sebulan, dua bulan, atau tiga bulan. Setelah empat bulan dia tak mampu lagi bersabar.” Jawab Hafshah.

 

Maka selanjutnya jangka waktu itu menjadi ukuran lamanya pengiriman pasukan ke medan perang. Hal ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan Allah dalam m.asalah ila’ (ila’: suami bersumpah untuk tidak mencampuri istrinya selama empat bulan atau lebih). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa kesabaran wanita bisa menipis setelah empat bulan dan tidak mampu lagi bersabar setelah jangka waktu itu. Maka jangka waktu empat bulan itulah yang ditetapkan bagi laki-laki yang meng-ila’. Setelah masa itu, dia bisa menyuruh istrinya untuk memilih tetap mempertahankan perkawinan atau cerai. Setelah empat bulan, tentu kesabarannya menjadi melemah, sebagaimana yang dikatakan penyair,

 

Tatkala kuseru tangis dan kesabaran


 Setelah di antara kita ada perpisahan


 Dengan patuh tangis memberi jawaban


 Dan tiada jawaban dari kesabaran

 

Sumber: Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Mustaqin oleh Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah

Pengaruh Teman Dalam Kehidupan

 

Sujud, Masjidil Haram 3

 

Pelajaran dari kisah persahabatan antara Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan persahabatan antara Ubaidullah bin Ziyad dengan Syamr bin Dzi al-Jausyan.
——————————————————————————————————————————————–

Islam sangat menaruh perhatian besar dalam masalah sosial, di antaranya dalam masalah pergaulan atau pertemanan. Islam menekankan agar seseorang memilih teman-teman yang baik, agar pengaruh baiknya membekas pada dirinya. Ketika seseorang berteman dengan seseorang yang shaleh, maka ia akan melihat adab-adab yang mulia, perkataan-perkataan santun dan baik, dan nasihat-nasihat pun akan keluar dari mulut sang teman apabila temannya yang lain melakukan sesuatu yang tidak diridhai Allah. Perumpamaan pertemanan seperti ini telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

 

Dari Abu Musa radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:

 

 

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ

مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

 

Dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk (sepergaulan) yang buruk adalah seperti pembawa misk (minyak wangi) dan pandai besi. Si pembawa misk mungkin akan memberimu (minyak wangi) atau engkau membeli minyak itu darinya atau engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu dapati bau yang busuk darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Sedangkan teman yang buruk akan mendorong kita melakukan keburukan-keburukan atau batas minimalnya kita akan terbiasa melihat perbuatan maksiat, dan menghilangkan kebencian kita terhadap perbuatan dosa. Pertemanan seperti ini adalah perteman yang semu, semu di dunia ini, tidak langgeng, dan akan saling memusuhi di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

 

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

 

 “Teman-teman karib pada hari itu (hari kiamat) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa”. (QS. Az-Zukhruf: 67).

 

Berikut ini kita akan mengambil pelajaran dari perteman Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik dengan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sebagai contoh pertemanan yang baik, yang membawa pahala, dan mendekatkan diri kepada Allah.

 

Dan yang lainnya adalah pertemanan Pemimpin Irak, Ubaidullah bin Ziyad bersama teman dekatnya Syamr bin Dzi al-Jausyan, sebagai contoh pertemanan yang buruk, yang saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan kemaksiatan, serta mendekatkan keduanya kepada murka Allah.

 

Pertama, pertemanan Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik dengan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz rahimahumallahu.

 

Saat Sulaiman bin Abdul Malik menjadi khalifah, ia mendekati orang-orang yang shaleh untuk ia jadikan teman dekat yang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Di antara orang tersebut adalah gubernurnya Umar bin Abdul Aziz. Sulaiman menjadikan Umar sebagai teman dekat dengan beberapa alasan:

 

-          Kepribadian Sulaiman sangat berbeda dengan saudaranya, al-Walid bin Abdul Malik, kahlifah sebelumnya. Al-Walid adalah seorang yang ujub, bangga terhadap dirinya sendiri, hanya percaya pada pendapatnya sendiri, sedangkan Sulaiman adalah seorang yang rendah hati, tidak ujub dan tidak membangga-banggakan dirinya.

 

-          Sulaiman meyakini bahwa Umar mempunyai pendapat-pendapat yang benar dan lurus.

-          Rasa terima kasih Sulaiman kepada sikap Umar tatkala al-Walid hendak menyingkirkan dirinya. Hal ini menimbulkan kedekatan secara personal di antara mereka berdua.

 

Ketika Sulaiman naik tahta menjadi khalifah, ia tidak melupakan kerabat sekaligus teman dekatnya Umar bin Abdul Aziz. Ia sering meminta nasihat dan tidak berkeberatan apabila diingatkan ketika pendapatnya tidak membuat maslahat.

 

Di antara contohnya Umar mempengaruhi Sulaiman untuk membuat kebijakan agar masyarakat menegakkan shalat tepat pada waktunya, dan jangan sampai aktivitas mereka melalaikan dari ibadah yang agung ini (Atsar al-Ulama fi al-Hayah as-Siyasiyah, Hal. 170). Umar memberi masukan kepada Sulaiman terhadap Hajjaj bin Yusuf dan kroni-kroninya agar meerka dibatasi dan tidak bertindak sewenang-wenang (Atsar al-Ulama fi al-Hayah as-Siyasiyah, Hal: 169).

 

Sulaiman bin Abdul Malik juga terbuka dan menerima kritik. Umar bin Abdul Aziz mengkritik Sulaiman terkait surat wasiat Khalifah Abdul Malik tentang hak waris putri-putrinya. Sulaiman hendak melaksanakan wasiat sang ayah, Abdul Malik, yang menyatakan putri-putrinya tidak mendapatkan warisan.

 

Lalu Umar menyanggahnya, kata Umar, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau meminta kitab Allah (sebagai putusan yang adil)?” Saat itu Ayyub bin Sulaiman menanggapi perkataan Umar, “Apakah salah seorang diantara kalian tidak takut mengucapkan kata-kata yang karenanya lehernya dipenggal?” Maka Umar menanggapi, “Jika perkara ini diserahkan ke tanganmu, maka apa yang menimpa kaum muslimin lebih besar daripada apa yang engkau katakan.” Sulaiman lalu membela Umar dan memarahi Ayyub (Sirah Umar bin Abdul Aziz, Hal: 31).

 

Suatu hari, Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Mdinah, ia membagi-bagikan harta dalam jumlah yang besar kepada penduduk Madinah. Lalu ia bertanya kepada Umar, “Apa pendapatmu tentang apa yang telah kami lakukan wahai Abu Hafsh (kun-yah Umar)?” Umar menjawab, “Aku melihatmu membuat orang kaya semakin kaya dan membiarkan orang-orang miskin dengan kemiskinannya.” (at-Tarikh al-Islami, 15: 30-31).

 

Umar mengkritik sedekah yang dilakukan Sulaiman karena tidak tepat sasaran, dan penting bagi khalifah untuk membedakan antara sekedar berbuat baik biasa degan berbuat baik dengan cara tepat sasaran sehingga memiliki manfaat yang jauh lebih besar.

 

Di hari Arafah, Sulaiman dan Umar wukuf di Arafah. Sulaiman merasa bahagia dengan banyaknya umat Islam yang berkumpul memenuhi panggilan Allah. Saat itu Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya, “Mereka adalah rakyatmu hari ini, tetapi besok kamu akan ditanya tentang mereka.”

 

Dalam riwayat lain, “Mereka adalah orang-orang yang akan menuntutmu di hari kiamat.” Tiba-tiba Sulaiman menangis, nasihat Umar benar-benar menghujam di dadanya, ia berkata, “Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 685).

 

Inilah profil pertemanan yang bermanfaat, pertemanan yang saling mengajak kepada kebaikan, bahkan sebelum wafatnya Sulaiman menunjuk Umar sebagai khalifah agar amanah kepemimpinannya bisa meringankannya.

 

Berikutnya adalah contoh pertemanan yang buruk. Teman yang buruk akan mengajak temannya melakukan perbuatan dosa dan menjauhkannya dari Allah Ta’ala. Pertemanan antara Ubaidullah bin Ziyad dan Syamr bin Dzi al-Jausyan.

 

Di dalam Huqbah min at-Tarikh dikisahkan, saat terjadi kekacauan di masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah, dimana Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah, hendak berangkat menuju Kufah (kota di Irak) untuk menyambut undangan penduduk Kufah yang siap membaiatnya sebagai khalifah.

 

Saat Husein hampir tida di Kufah, ia dicegat oleh pasukan-pasukan Kufah atas perintah Ubaidullah bin Ziyad. Awalnya Ubaidullah hanya akan melakukan apa yang Yazid perintahkan, yakni supaya Husein tidak memasuki Kufah demi menghindari terjadinya fitnah. Husein pun akhirnya menyadari bahwa penduduk Kufah telah menghianatinya, Husein mengajukan beberapa pilihan kepada pasukan Kufah; membiarkannya pulang ke Mekah atau Madinah, pergi menemui Yazid di Syam, atau membiarkannya pergi menuju daerah perbatasan. Saat keinginan ini disampaikan kepada Ubaidullah, ia menuruti apa yang diinginkan Husein, dan menghormatinya sebagai keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Namun apa yang baru saja diucapkan Ubaidullah seketika menjadi berubah saat mendengar masukan dari Syamr bin Dzi al-Jausyan. Kata Syamr, “Engkau seorang pemimpin, tapi dia (Husein) yang menentukan? Aneh sekali.” Lalu Syamr menyarankan, “Bawa dia kemari sebagai tahanan, lalu engkau yang tentukan setelah itu.”

 

Akhirnya pasukan diperintahkan untuk menahan Husein, dan membawanya ke Irak sebagai tahanan. Husein yang tidak menerima hal itu, karena seorang muslim memang tidak boleh dijadikan tawanan oleh muslim lainnya, terlebih dia adalah satu-satunya cucu Rasulullah yang hidup di muka bumi ini, kekerabatannya dengan Rasulullah sangatlah dekat, dan Rasulullah memerintahkan umatnya agar berbuat baik kepada keluarganya. Namun Ubaidullah sudah terlalu gelap untuk menerima hukum-hukum tersebut, pasukannya pun –yang terdiri dari orang-orang yang berhianat kepada Husein- menerima perintah tanpa memikirkan siapa yang mereka hadapi. Akhirnya Husein radhyiallahu ‘anhu terbunuh.

 

Inilah pengaruh teman yang buruk, sampai-sampai bisa melakukan kesalahan yang sangat fatal. Tidak hanya membuat gelap mata seseorang dari kemaksiatan-kemaksiatan kecil bahkan dosa besar pun tidak dirasakan lagi, dosa membunuh orang yang termasuk kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Oleh karena itu, hendaknya kita memilih teman-teman yang baik, yang menjauhkan kita dari bahaya dan perbuatan dosa. Dan mencari teman-teman yang shaleh, yang mempengaruhi kita untuk semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Monday, November 11, 2013

Kisah Unik Mencari Buku Kuno

kisah unik mencari buku kuno

Kisah Unik Mencari Buku Kuno
(The Real Book Lover)

Hamba yang lemah, penulis buku ini berkata, “Pada masa-masa mencari ilmu, aku hidup kekurangan seperti para penuntut ilmu lainnya. Aku membeli buku-buku yang bisa aku beli dengan menyisihkan uang sakuku yang tak seberapa, baik dengan cara kontan maupun cicilan jika memungkinkan.
Suatu hari aku melihat sebagian buku langka yang sangat penting bagiku. Aku berhasrat memilikinya, akan tetapi aku sedang dalam kemiskinan yang sangat. Sehingga tidak ada jalan untuk membelinya. Hati dan pikiranku tidak tenang karenanya. Maka, aku menjual syal warisan dari bapakku, semoga Allah merahmatinya, di Pasar Al-Harraj, lalu aku membeli buku-buku tersebut. Setelah membelinya, hati dan pikiranku menjadi tenang. Aku sangat bahagian bisa membeli dan memilikinya. Kebahagiaanku itu melupakan diriku dari lenyapnya syal milikku. Segala puji bagi Allah.

 

Terkadang aku bernadzar kepada Allah untuk menunaikan shalat sekiat rakaat jika aku mendapatkan buku tertentu. Aku pernah mengalami suatu peristiwa dalam urusan berburu buku. Aku mencatatnya di sini karena keunikannya, berikut ini kisahnya:

 

Ketika aku masih di Kairo menjadi mahasiswa pada Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, syaikh kami, Al-Allamah Imam Muhammad Zahid Al-Kautsari mewasiatkan kepadaku di sela-sela aku mengikuti kajian-kajiannya, agar aku memiliki buku Fath Babil Inayah bi Syarh Bukuin Nuqayah, karya Al-Allamah Syaikh Ali Al-Qari. Ia berulang-ulang mendorongku dengan sangat agar aku mendapatkan buku tersebut, karena ia mengetahui bahwa aku penggemar buku-buku langka yang bermanfaat. Aku menduga bahwa buku ini dicetak di India. Aku tinggal di Kairo selama 6 tahun sampai aku menyelesaikan kuliahku. Selama itu pula aku bertanya tentang buku tersebut.

 

Aku mencarinya di semua perpustakaan yang aku perkirakan buku itu ada padanya. Akan tetapi, aku tidak menemukan informasi atau jejak apa pun tentangnya.

 

Ketika aku pulang ke kotaku Halb, aku terus mencari buku tersebut di setiap kota yang aku kunjungi atau perpustakaan yang aku datangi. Karena aku menduganya dicetak di India, sementara ia termasuk buku-buku fiqih ulama Hanafi, maka aku bertanya kepada para penjual buku-buku cetakan India dalam masalah fiqih Hanafi secara Umum. Siapa tahu aku berhasil mendapatkannya dengan cara ini, karena bisa jadi mereka tidak mengetahui namanya. Di Damaskus terdapat banyak penjual buku kuno yang, tentunya mereka mengenali banyak buku kuno yang berharga. Mereka juga mempunyai banyak koleksi buku-buku kuno tersebut. Hanya saja mereka telah meninggikan harganya dan mempersulit penjualannya. Di antara mereka adalah Sayyid Azzat Al-Qushaibati dan bapaknya, Syaikh Hamdi As-Safarjali, dan Sayyid Ahmad Ubaid.

 

Aku bertanya kepada Sayyid Azzat Al-Qaushaibati tentang buku Fath Babil Inayah yang merupakan cetakan India. Ia menjawab, “Buku itu ada padaku.” Ia mengeluarkan buku Al-Binayah bi Syarhil Hidayah, karya Imam Al-Aini yang dicetak di India sejak satu abad yang lalu, yaitu tahun 1293 H, dalam 6 jilid yang sangat besar sekali. Buku ini termasuk buku-buku langka lagi berharga yang aku cari. Maka, aku membelinya dengan harga yang tidak mahal. Pasalnya, ia bukanlah buku yang aku maksudkan di awal, yang aku sebutkan namanya.

 

Kemudian aku bertanya kepada Syaikh Hamdi As-Safarjali tentang buku tersebut. Darinya aku mengetahui bahwa buku itu dicetak di Qazan, sebuah kota di Rusia, dan sebagaimana dikatakan bahwa ia lebih langka daripada kibrit ahmar (emas merah). Sepanjang hidup Syaikh dan kesibukannya dengan buku-buku, ia hanya memegang satu set dari buku tersebut. Ia telah menjualnya kepada Al-Allamah Al-Kautsari dengan harga paling mahal yang tidak terbayangkan. Pada saat itu juga aku mengetahui nama kota di mana buku tersebut dicetak. Harapanku untuk mendapatkannya semakin menipis!

 

Tatkala Allah memberiku kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke rumah-Nya yang mulia pada tahun 1376 H. Pada saat memasuki Mekah Al-Mukarramah, aku berkeliling menanyakan buku tersebut di perpustakaan-perpustakaan yang ada di sana, dengan harapan, aku bisa mendapatkannya. Apalagi di sini banyak orang yang datang dari penjuru negeri, berharap mereka memiliki inforamsi, namun ternyata belum ada hasil.

 

Kemudian inayah Allah membawaku kepada seorang kolektor buku kuno yang terletak di sudut sebuah pasar sederhana di Mekah Al-Mukarramah. Ia adalah Syaikh Mushthafa bin Muhammad Asy-Syinqithi, semoga Allah menyeleamatkannya. Aku membeli beberapa buku darinya.

 

Aku bertanya kepadanya – dengan penuh keputusasaan – tentang buku tersebut. Ia mengatakan kepadaku, “Buku itu ada padaku selama satu minggu. Aku membelinya dari warisan seorang ulama Bukhara. Lalu, aku menjualnya kepada seorang laki-laki dari Bukhara pula, ia termasuk ulama dari daerah Thasyqand, dengan harga yang lumayan tinggi.” Aku hampir tak mempercayainya, hingga ia menjelaskan ciri-cirinnya dengan penjelasan yang membuktikan bahwa ia benar-benar mengetahui buku tersebut. Memang itulah buku yang aku buru dan aku cari sejak beberapa tahun terakhir ini.

Aku bertanya, “Siapa ulama Thasyqand yang membeli buku tersebut?” Si kolektor buku kuno itu mulai mengingat-ingat. Lalu, ia menyebut sebuah nama keapdaku, yaitu Syaikh Inayatullah Ath-Thasyqandi. Aku bertanya, “Di mana ia tinggal, atau tempat kerjanya, atau di mana aku bisa menemuinya?” Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana aku bertanya tentangnya?” Ia menjawab, “Tidak tahu.” Pada saat itu keputusasaanku untuk mendapatkannya atau untuk bertemu dengan pembeli semakin bertambah.

 

Setelah itu aku pergi bertanya tentang Syaikh Inayatullah kepada setiap orang Bukhara yang aku lihat di Masjidil Haram, atau pasar-pasar Mekah. Aku pergi ke madrasah-madrasah dan perkumpulan-perkumpulan yang katanya ada orang-orang Bukhara di sana, untuk menanyakan tentang Syaikh dari Bukhara tersebut. Bahkan, aku sampai pergi ke komplek-komplek perumahan yang ada di luar Mekah, ketika ada yang mengatakan kepadaku bahwa di sana ada orang-orang Bukhara. Namun, pertemuan dengan syaik yang aku harapkan tidak kunjung terwujud? Berapa banyak orang-orang Bukhara yang bernama Inayatullah di Mekah Al-Mukarramah?

 

Pencarian yang terus-menerus membawaku kepada Syaikh Abdul Qadir Ath-Thasyqandi Al-Bukhari As-Sa’athi di kompleks perumahan Jarwal di pinggiran Mekah. Aku bertanya kepadanya tentang Syaikh Ath-Thasyqandi. Ternyata ia mengenalnya dan menyebutkan nama aslinya kepadaku, yaitu Syaikh Mir Inayah Ath-Thasyqandi. Hanya saja ia tidak mengetahui tempat tinggalnya atau di mana bisa bertemu dengannya. Pada saat itu, aku benar-benar putus asa untuk bertemu dengan Syaikh yang memiliki buku Fath Babil Inayah.

 

Pada saat thawaf di Ka’bah yang agung, semoga Allah menambah kemuliaan dan keagungannya, aku selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar membimbingku kepada orang yang kutuju dan memudahkanku memiliki buku tersebut. Aku terus mengulang-ulang doa dan permintaanku berkali-kali. Satu minggu telah berlalu – dan Allah Maha Mengetahuinya –, sementara pikiranku tidak pernah tentang terkait dengan pencarianku terhadap buku tersebut dan pemiliknya.

 

Sampai pada suatu hari, saat aku berjalan di Pasar Pintu Ziyadah dari pintu-pintu Masjidil Haram, seorang pedagang Damaskus yang lama tinggal di Mekah melihatku. Ia bernama Abu Arab. Ia memiliki tempat berdagang di sana sebelum perluasan Al-Haram. Ia pun memanggilku ke tempat berdagangnya saat melihatku berpenampilan dan berpakaian ala negeri Syam. Ia menanyakan kepadaku tentang negeri Syam dan penduduknya. Aku balik bertanya kepadanya – ia adalah seorang saudagar dari kota Damaskus, Syam – karena aku benar-benar menginginkan buku itu, yakni tentang syaikh dari Bukhara tersebut! Ia mengatakan kepadaku bahwa menantu Syaikh itu adalah suami dari anak perempuannya, yang ada di kios depan itu. Ia orang yang paling tahu tentangnya. Demi Allah, aku hampir-hampir tak mempercayainya hal itu karena saking bahagia dan gembiranya.

 

Aku segera pergi menemui si menantu Syaikh itu, lalu bertanya kepadanya tentang sang Syaikh. Ia merasa heran, dan balik bertanya kepadaku, “Apa yang membuatmu bertanya tentang beliau dan hendak menemuinya?” Kujawab, “Lebih dari seminggu ini, aku terus mencari sang Syaikh. Tunjukkanlah kepadaku di mana beliau, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

 

Ia menunjukkan kepadaku rumah sang Syaikh yang berada di kompleks perumahan Al-Misfalah, di samping Qahwas Saqifah. Aku segera pergi menemui sang Syaikh berkali-kali, baik siang maupun malam, hingga aku bisa bertemu dengannya. Akhirnya, ia rela menjual buku tersebut kepadaku sesuai harga yang ia pilih dan ia inginkan. Bagiku, itu merupakan salah satu kebahagiaan sepanjang hidupku.

 

Allah telah memberiku nikmat, sehingga aku bisa menerbitkan juz pertama dari buku tersebut disertai revisinya. Aku memohon kepada Allah agar tetap memberiku nikmat, sehingga aku bisa menerbitkan sisanya dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

 

Aku tutup pembahasan ini dengan menampilkan dua kisah secara komplit. Mayoritas pembahasan sebelumnya, telah tercakup dalam dua kisah ini. Oleh karena itu, aku mencantukannya di akhir lembaran-lembaran buku ini, karena kedua kisah tersebut telah masuk dalam mayoritas pembahasan sebelumnya.

 

Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Cetakan:1: 2008