Tuesday, November 5, 2013

Penyebab Doa Tidak Dikabulkan

Kisah Muslim 

Penyebab Doa Tidak Dikabulkan

Dihikayatkan bahwa Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu melewati pasar di Bashrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Ishaq! Ada apa dengan kami, kami telah berdoa tetapi tidak terkabul?”

 

Beliau menjawab, “Lantaran hati kalian semua telah mati dengan sepuluh perkara, yaitu:

 

Pertama, kalian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi kalian tidak mau memberikan hak-Nya.

 

Kedua, kalian menganggap diri kalian cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kalian meninggalkan sunahnya.

 

Ketiga, kalian telah membaca Alquran, tetapi kalian tidak mengamalkannya.

 

Keempat, kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh kalian, tetapi kalian tidak berlawanan dengannya.

 

Kelima, Kalian memakan nikmat dari Allah tapi tidak menunaikan haknya.

 

Keenam, kalian berkata bahwa surga adalah kepastian, tetapi kalian tidak melakukan amal perbuatan untuknya.

 

Ketujuh, kalian berkata bahwa neraka adalah kepastian, tetapi kalian tidak menghindarinya.

 

Kedelapan, kalian berkata bahwa kematian adalah kepastian, tetapi kalian tidak melakukan persiapan untuknya.

 

Kesembilan, kalian bangun dari tidur, lalu kalian menyibukkan diri dengan aib-aib orang lain sedangkan kalian melupakan aib kalian sendiri.

 

Kesepuluh, kalian menguburkan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.’

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Rezeki Semua Makhluk, Telah Allah Tanggung


rezeki allah

Rezeki Semua Makhluk, Telah Allah Tanggung

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki duduk di bawah pohon kurma. Kemudian dia terlentang dengan merebahkan punggungnya. Tiba-tiba dia melihat burung pipit yang di mulutnya terdapat buah, terbang dari pohon kurma yang berbuah ke pohon lain yang tidak berbuah. Dia melihat burung tersebut melakukan ini berulang-ulang. Dia pun heran terhadapnya.

 

Dia berkata dalam hati, “Sungguh, saya akan memanjat pohon ini, agar saya tahu apa yang terjadi.” Lalu dia memanjat pohon. Ternyata dia melihat di dalam pelepah pohon kurma ada seekor ular buta yang membuka mulutnya. Sedangkan burung pipit menjatuhkan buah di mulut ular tersebut. Dia pun merasa takjub dengan kejadian ini dan berkata, “Maha Benar Allah yang telah berfirman:

 

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

 

Diceritakan bahwa Ibnu Absyadz an-Nahwi suatu hari sedang berada di atap Masjid Jami Mesir. Dia makan suatu makanan. Di sisinya terdapat banyak orang. Lalu seekor kucing mendatangi mereka. Lantas mereka memberikan sesuap makanan kepada kucing tersebut. Kucing itu pun mengambil dengan mulutnya dan pergi meninggalkan mereka.

 

Kemudian kucing tersebut kembali lagi, lalu mereka melemparkan kepadanya makanan lain. Lantas kucing itu pun melakukan hal yang sama sampai berulang-ulang. Setiap kali mereka melemparkan makanan, kucing itu mengambilnya, lalu pergi, kemudian kembali lagi seketika. Sehingga, mereka merasa heran dengan kucing tersebut. Mereka yakin bahwa makanan semisal itu tidak mungkin dimakan si kucing sendirian karena terlalu banyak.

 

Ketika mereka penasaran dengan kejadian tersebut, maka mereka mengikuti kucing. Ternyata mereka mendapatinya naik ke atas dinding di atap Masjid Jami, kemudian ia turun ke tempat yang searah dengannya di antara reruntuhan. Ternyata di dalamnya terdapat kucing lain yang buta.

 

Semua makanan yang diambil si kucing dibawa kepada kucing yang buta tersebut dan diletakkan di hadapannya, lalu kucing buta memakannya. Mereka pun takjub dengan kejadian ini. Lalu Ibnu Absyadz berkata, “Jika untuk binatang buta ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menundukkan kucing ini untuknya. Kucing ini memenuhi kecukupannya dan tidak menghalangi rezekinya, maka bagaimana mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala menyia-nyiakan orang semisal aku?”

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Hal-hal yang Menyelamatkan dari Kebinasaan

kisah hikmah ulama dahulu

Hal-hal yang Menyelamatkan dari Kebinasaan

Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami ketika kami sedang berada di shuffah di kota Madinah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh, tadi malam saya bermimpi aneh. Saya melihat seseorang dari umatku didatangi oleh malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Lalu datanglah amalnya berupa bakti kepada kedua orang tua yang menghalangi malaikat maut mencabut nyawanya.

 

Saya melihat seseorang dari umatku telah dihamparkan untuknya siksa kubur, lalu wudhunya mendatanginya dan menyelamatkannya dari siksa tersebut. Saya melihat seseorang dari umatku dikepung oleh beberapa setan, lalu dzikirnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya dan mengusir setan-setan tersebut dari sisinya. Saya melihat seseorang dari umatku telah dikepung oleh malaikat juru siksa lalu shalatnya mendatanginya dan menyelamatkannya dari tangan para malaikat tersebut.

 

Saya melihat seseorang dari umatku merasakan kehausan. Ketika dia hendak mendekat ke telaga, maka dia dicegah dan diusir, lantas puasanya pada bulan Ramadhan datang dan memberinya minum sehingga membuatnya segar. Saya melihat seseorang dari umatku dan saya melihat para nabi berkelompok membentuk lingkaran-lingkaran.

 

Ketika dia hendak mendekati lingkaran para nabi, maka dia diusir, lantas datanglah mandi jinabatnya dan memegang tangannya, lantas mendudukkannya di sampingku. Saya melihat seseorang dari umatku di depannya gelap, di sebelah kirinya gelap, di sebelah kanannya gelap, di sebelah atasnya gelap, dia pun menjadi bingung. Lantas datanglah hajinya dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkannya dari kegelapan dan memasukkannya dalam cahaya.

 

Saya melihat seseorang dari umatku melindungi tangannya dan wajahnya menghindari nyala dan bara api neraka, lantas datanglah sedekahnya menjadi tabir antara dirinya dan neraka sekaligus menjadi naungan untuk kepalanya. Saya melihat seseorang dari umatku mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka tidak mau berbicara dengannya, lalu datanglah silaturahim yang dilakukannya, lalu berkata, ‘Wahai golongan kaum mukmin! Sesungguhnya dia banyak melakukan silaturahim, oleh karena itu ajaklah dia bicara. Maka, kaum mukmin pun mau mengajaknya bicara, berjabat tangan dengannya, dan dia berada di tengah-tengah mereka.

 

Saya melihat seseorang dari umatku telah dikepung oleh malaikat Zabaniyah, lalu datanglah amar makruf nahi mungkar yang pernah dilakukannya, lalu menyelamatkannya dari tangan malaikat tersebut dan memasukkannya di kalangan malaikat Rahmat. Saya melihat seseorang dari umatku bersimpuh pada kedua lututnya.

 

Sementara antara dirinya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala terdapat penghalang, lantas datanglah akhlaknya yang baik, lalu memegang tangannya dan mempertemukannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Saya melihat seseorang dari umatku yang lembaran catatan amalnya jatuh di arah kirinya, lantas datanglah rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu mengambil lembaran catatan amal tersebut dan diletakkan pada tangan kanannya. Saya melihat seseorang dari umatku yang timbangan amalnya ringan, lalu anak-anaknya yang masih kecil yang telah meninggal sebelum dia mendatanginya, latnas mereka memberatkan timbangan amalnya. Saya melihat seseorang dari umatku sedang berdiri di tepi neraka Jahannam, lalu khauf (rasa takut) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya, lantas menyelamatkannya dari hal tersebut dan berlalu.

 

Saya melihat seseorang dari umatku turun ke neraka, lantas air mata yang pernah dicucurkannya karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya, lalu menyelamatkannya dari hal tersebut. Saya melihat seseorang dari umatku sedang berdiri di atas shirath (jembatan) yang bergoyang-goyang bagaikan pelepah pohon kurma yang diterpa angin kencang, lantas baik sangkanya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla mendatanginya, lalu menenangkan ketakutannya dan dia pun melewatinya. Saya melihat seseorang dari umatku sedang merangkak di atas shirath, terkadang mengesot, dan sesekali bergantung, lantas bacaan shalawatnya kepadaku mendatanginya, lalu menyelamatkannya dan menegakkan kedua kakinya. Saya juga melihat seseorang dair umatku telah sampai di pintu-pintu surga, ternyata pintu-pintu itu telah ditutup, lalu bacaan syahadat bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya, lalu membukakan untuknya pintu-pintu surga dan memasukkannya ke dalam surga’.”

 

(Dikeluarkan oleh al-Madini, dan dia berkata hadits ini hasan). Sekelompok huffazh menyebutkan bahwa isyarat keshahihannya telah terlihat.

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Disembelihnya Kematian

kisah kematian

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak, kematian akan didatangkan dalam bentuk domba yang berwarna putih campur hitam, lalu ada suara yang menyerukan, ‘Wahai para penduduk surga!’ maka mereka pun melongok dan melihat. Selanjutnya ia berkata, ‘Apakah kalian mengenal domba ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya. Ini adalah kematian.’ Mereka semua melihatnya.

 

Kemudian ia menyerukan, ‘Wahai para penduduk neraka!’ Maka mereka pun melongok dan melihat. Selanjutnya ia berkata, ‘Apakah kalian mengenal domba ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya. Ini adalah kematian.’ Semuanya melihatnya. Lalu domba tersebut disembelih. Kemudian ia berkata, ‘Wahai penduduk surga, kalian kekal selamanya. Tidak ada matinya. Wahai penduduk neraka. Kalian kekal selamanya. Tidak ada matinya’.” 

 

Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka, penduduk surga semakin bertambah bahagia sedangkan penduduk neraka semakin bertambah sengsara.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca:

 

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam: 39)

 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dengan redaksi Imam Ahmad. Diriwayatkan pula oleh asy-Syaikhani dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Redaksi keduanya mirip dengan redaksi imam Ahmad.

 

Saat itulah, manusia akan hidup abadi selama-lamanya, mereka tidak akan mengalami kematian karena kematian telah Allah binaskan. Bahagialah penduduk surga dengan kebahagiaan yang abadi, sengsara dan binasalah penduduk neraka dengan siksaan yang tiada akhir.

Oleh karena itu kaum muslimin, janganlah kita tukar kehidupan di dunia ini yang sementara dengan derita yang tak berujung di akhirat sana. Pergunakanlah dunia untuk menjemput kebahagian abadi di surga.

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Orang-Orang Yang Menepati Janjinya Kepada Allah

inside nabawi

Semoga Allah merahmati Anas bin Nadhir. Ia adalah seorang syahid Perang Uhud yang telah memenuhi janjinya kepada Tuhannya. Dia sangat menyesal tidak hadir di Perang Badar, karenanya dia merasa kehilangan banyak kebaikan dan pahala yang besar. Anas tidak turut serta dalam Perang Badar bukan karena takut atau dia seorang yang munafik. Dia mengira tidak akan terjadi perang, dia menyangka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hanya untuk mencegat kafilah dagang orang-orang Quraisy, dan Rasulullah tidak mewajibkan para sahabatnya untuk berangkat. 

 

Anas telah berjanji kepada Allah, “Jika Allah memberiku memberiku kesempatan hadir di medan perang melawan musuh-musuh-Nya, niscaya Dia pasti melihat apa yang aku lakukan.”

 

Di Perang Uhud, kaum musyrikin lari tunggang langgang di awal peperangan di saat kaum muslimin bersikap benar. Allah mewujudkan janji-Nya kepada mereka, akan tetapi manakala kaum muslimin menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bercerai-berai sementara peperangan kembali memanas. 

 

Anas melihat keadaan dan situasi telah berubah. Dia melihat teman-temannya seraya berkata, “Wahai Saad, aku mencium bau surge di balik Gunung Uhud,” Anas meliah kaum muslimin yang terpukul mundur, maka ia berkata, “Ya Allah, maafkanlah aku dari apa yang mereka lakukan.” Dia pun maju menyerang musuh seperti seekora rajawali menyerang mangsanya. Kekuatan iman mendorongnya, ada kehidupan mulia yang diidam-idamkannya setelah dia meninggalkan kehidupan ini. Dia ingin memenuhi janjinya, dan dia menunjukkannya kepada Allah Ta’ala.

 

Perang pun usai, kaum muslimin mendapati tubuhnya menjadi ladang bagi pedang, tombak, dan anak panah, sampai-sampai para sahabat tidak mengenalinya lagi. Wajahnya berubah, hanya saudara perempuannya yang mengenalinya dari tanda yang terdapat di jari tangannya. Saad menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kepahlawanan Anas, “Y a Rasulullah, demi Allah, aku tidak kuasa melakukan apa yang telah dilakukan oleh Anas.”

 

Sikap Anas ini mengingatkanku pada sikap seorang badui yang beriman dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sang badui diberi harta rampasan perang sebagai haknya, dia malah bertanya kepada Rasulullah, “Apa ini?” Rasulullah menjawab, “Harta rampasan perang yang menjadi hakmu.” Badui itu menjawab, “Aku tidak mengikutimu demi ini. Aku mengikutimu agar aku bisa berperang di jalan Allah, lalu anak panah menembus ini (dia menunjuk kepada lehernya). Maka aku mati dan masuk surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ucapan itu jujur, Allah akan mewujudkan keinginanmu.”

 

Pada perang berikutnya, badui tersebut dibawa kepada Rasulullah dalam keadaan anak panah tertancap di lehernya. Rasulullah bertanya, “Diakah itu?” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia membenarkan Allah, maka Allah membenarkannya.”

 

Begitu pula pemuda yang meninggalkan shalat di belakang Mu’adz radhiallahu ‘anhu, dengan alasan bacaan Mu’adz terlalu panjang. Mu’adz menuduhnya munafik. Maka pemuda itu mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah berkata kepada Mu’adz, “Apakah kamu seorang pembuat fitnah wahai Mu’adz?” Lalu beliau berkata kepada pemuda itu, “Apa yang kamu lakukan jika kamu shalat wahai anak muda?” Dia menjawab, “Aku membaca Al-Fatihah.

 

Aku memohon surga dan perlindungan dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku dan Mu’adz sama-sama membaca apa yang kamu baca.” Kemudian pemuda itu mengatakan, “Mu’adz akan tahu siapa aku kalau musuh datang.” Pada saat itu kaum muslimin mendapatkan informasi bahwa ada musuh yang hendak datang menyerang. Beberapa saat, benar saja musuh datang menyerang. Kaum muslimin pun tak gentar menghadapi mereka.

 

Pemuda itu ikut serta bertempur dan dia gugur sebagai syahid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz, “Apa yang terjadi pada pemuda itu?” Mu’adz menjawab, “Ya Rasulullah, dia telah membenarkan Allah dan aku berbohong. Dia gugur syahid.”

 

Generasi pertama adalah generasi yang benar dalam akidah dan perbuatan mereka. mereka bertolak dari akudah yang kuat dan niat yang teguh. Jika kita meneliti orang-orang seperti ini, orang-orang yang tidak hanya berbicara, niscaya kita akan mendapati ratusan bahkan ribuan teladan yang mengagumkan. Mereka adalah realisasi dari firman Allah,

 

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً

 

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

 

Kita memerlukan orang-orang mukmin seperti mereka. orang-orang yang ucapannya sesuai dengan akidahnya. Perbuatannya membenarkan ucapan dan akidahnya. Mereka sadar bahwa mereka menisbatkan diri mereka kepada Islam dengan hati, perasaan, tingkah laku, harapan, dan penderitaan. Mereka menegakkan hubungan mereka dengan orang lain, baik dalam bentuk kecintaan ataupun kebencian, di atas petunjuk kitabullah, Alquran.

 

Kita memerlukan orang-orang mukmin seperti mereka. Apakah kita termasuk sebagian dari mereka? Semoga. Jika tidak, maka berusahalah dan semoga Allah memberi pertolongan.

 

Sumber: Ensiklopedi Generasi Salaf

Muhammad al-Ahmar Pahlawan dari Granada

Granada

 

 

Sekitar tahun 1240 M, Spanyol yang muslim sedang dalam keadaan terpuruk dan mengalami kekacauan. Negara itu sedang diperebutkan oleh raja-raja Kristen Eropa, siapa di antara mereka yang paling kuat, maka akan menguasai negeri muslim di Eropa tersebut. Padahal sebelumnya umat Islam adalah kelompok yang disegani oleh penguasa-penguasa Eropa.

 

 

Keadaan demikian terus menyelimuti umat Islam di Spanyol sepanjang abad ke-12 Masehi atau abad ke-6 Hijriyah. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Walaupun dalam keadaan terpuruk, negara Islam di Andalusia ini masih memiliki harapan, mereka belum 100% tamat dan hanya meninggalkan sejarah. Saat itu muncullah seorang pahlawan besar yang bernama Muhammad bin Yusuf al-Ahmar atau lebih dikenal dengan Muhammad al-Ahmar dari bani al-Ahmar. Ia selalu memikirkan cara agar umat Islam bisa mengecap masa kejayaan kembali di benua biru tersebut. Ia terus memutar otaknya, mengumpulkan masalah-masalah dan mencari solusinya.

 

 

Bisakah Muhammad al-Ahmar bisa menyelamatkan Andalus dari bibir jurang yang terbuka lebar? Berikut ini uraian kisahnya.

 

 

Peluang Muhammad al-Ahmar dimulai ketika terjadi kekosongan kekuasaan di Kerajaan Granada. Saat penguasa Granada wafat, sang raja meninggalkan kekuasaannya tanpa pengganti atau pewaris. Muhammad al-Ahmar dibantu oleh rekan-rekannya dengan cepat bergerak dan mengambil alih kekuasaan yang kosong kala itu. Granada yang merupakan kerajaan terbesar di Andalusia ditambah sebuah wilayah kecil yang dikenal dengan wilayah Miriyah ia siapkan untuk mengecap kembali kejayaan Islam di tanah Andalusia.

 

Pada tahun 1244 M, Raja Qusytala, Ferdinand III yang beragama Kristen mendengar berita-berita tentang Muhammad al-Ahmar. Ia mendengar tentang bagaimana rakyat Granada mencintai dan menghormati raja mereka ini. Ia juga mendapat kabar tentang semangat, kecerdasan, dan cita-cita raja muda ini untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Ferdinand pun mulai merasa terganggu dengan kabar-kabar tersebut. Ia khawatir kalau Muhammad al-Ahmar akan menggagalkan amibisinya menguasai kerajaan-kerajaan Islam di Andalusia. Oleh karena itu, Ferdinand berjanji kepada dirinya sendiri untuk menundukkan Muhammad al-Ahmar.

 

Tidak menunggu waktu yang lama, Ferdinand segera mengirim pasukan besar untuk menyerang Granada. Dalam penyerangannya yang pertama, pasukan Ferdinand dengan mudah dipukul mundur oleh mujahid-mujahid Granada. Kedatangan mereka disambut dengan hujan panah yang membuat mereka mundur dan kalah.

 

Mendengar kekalahan pasukannya, Ferdinand semakin yakin bahwa Muhammad al-Ahmar benar-benar merupakan ancaman besar. Ia memutuskan untuk berangkat berperang dan memimpin langsung pasukannya menyerang Granada. Dengan peralatan yang lebih lengkap serta dukungan penuh rakyatnya sempurnalah persiapan Ferdinand III.

 

Di sinilah kita dibuat takjub terhadap langkah politik yang diambil oleh Muhammad al-Ahmar, manakala mengetahui persiapan yang dilakukan oleh Ferdinand III. Muhammad al-Ahmar sadar betul bahwa ia tidak akan mampu melawan pasukan yang dibawa oleh Ferdinand III, Granada baru saja mulai bangkit dari keterpurukan yang mereka alami, di atas kertas tidak mungkin mereka akan menang melawan Kerajaan Kristen Qusytala yang sudah mapan. Muhammad al-Ahmar pun memutuskan untuk menyerah kepada Ferdinand III, menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Qusytala, dan memberikan loyalitasnya kepada mereka. Muhammad al-Ahmar bersedia membayar pajak yang ditetapkan oleh Ferdinand hingga saat yang belum ia ketahui. Raja Ferdinand III pulang ke negaranya dengan kepala tegak dan sorak sorai kemenangan, mereka berhasil menaklukkan Granada tanpa mengangkat senjata.

 

Sepuluh tahun setelah Muhammad al-Ahmar merelakan Granada tunduk kepada Qusytala, ia pun membuat keputusan yang sangat berani. Granada baru telah lahir, Granada yang kuat, yang memiliki benteng-benteng yang kokoh dan tentara-tentara yang tangguh dengan perlengkapan yang mumpuni sepuluh kali lipat lebih kuat dibanding sepuluh tahun yang lalu. Masyarakat Granada hari ini juga masyarakat yang memiliki persatuan yang amat kuat, mereka tidak lagi berbicara tentang keuasaan, akan tetapi pembicaraan mereka adalah tentang kemenangan.

 

Dengan persiapan seperti itu, Muhammad al-Ahmar pun mengumumkan penolakan membayar pajak kepada Raja Ferdinand III, ia enggan untuk tunduk di bawah kekuasaannya seperti yang telah ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir ini. Muhammad al-Ahmar juga menggandeng rekan-rekannya dari Bani Marin dan raja-raja Afrika untuk sama-sama menghadapi Kerajaan Qusytala.

 

Penolakan tersebut ditanggapi Ferdinand dengan ekspansi militer. Pasukan Kristen Eropa itu datang dengan percaya diri yang tinggi karena ketidaktahuan mereka tentang Granada yang baru. perang sengit pun terjadi, Muhammad al-Ahmar memimpin pasukannya menyerang pasukan musuh, menusuk dan mengayunkan pedangnya dengan kuat untuk mengahantam musuh. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, yang ada di benaknya adalah menghabisi musuh sebanyak-banyaknya dan menggapai kemenangan.

 

Muhammad al-Ahmar tidak berhenti maju menerobos dan mengayunkan senjatanya sampai ia mendengar ucapan, “Cukup wahai panglima, tidak ada yang tersisa lagi dari pihak musuh.” Muhammad al-Ahmar dengan sedikit bingung sambil menjawab dengan suara keras, “Benarkah perang telah selesai?!” “Benar wahai panglima, kita menang Alhamdulillah. Orang-orang kafir telah berlari kocar-kacir.” Muhammad al-Ahmar berteriak gembira, “Kita menang!! Kita menang!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!” Kaum muslimin pun turut bertakbir dan bergemuruhlah medan perang dengan kalimat takbir.

 

Pelajaran:

 

Mengalah dengan perhitungan realistis bukanlah suatu kekalahan, terlebih lagi masa-masa “mengalah” itu diisi dengan persiapan untuk menjemput kemenangan. Apabila kebijaka yang dilakukan Muhammad al-Ahmar dilakukan pada zaman sekarang ini, mungkin akan mendapat banyak celaan dari banyak umat Islam. Umat Islam akan mengarahkan telunjuk mereka kepada Muhammad al-Ahmar sembari mengatakan, “Mengapa engkau menyerah? Apakah engkau takut mati? Bukankah kita memiliki semboyan hidup mulia atau mati syahid? Tidak hidup hina dengan tunduk di bawah kekuasaan orang kafir dan membayar pajak kepada mereka.” Tapi ternyata kebijakannya tersebut malah berbuah kejayaan bagi umat Islam di Granada, kejayaan yang berlangsung kurang lebih sdua abad sebelum runtuhnya Kerajaan Granada.

 

Sama halnya dengan apa yang dilakukan sebagian negara-negara Islam yang baru mempersiapkan kekuatan militer mereka, membangun ekonomi yang kokoh, rakyat yang sejahtera, dan keadaan negara yang stabil dan makmur, negara-negara ini dituduh sebagai antek Amerika atau takut kepada Amerika. Padahal bisa jadi ini adalah sebuah strategi, sebagaimana Muhammad al-Ahmar yang malah melakukan hal yang lebih parah dengan membayar pajak. Amerika dan Eropa saat ini adalah negara yang kuat, yang memiliki pengaruh yang sangat kuat pula, memiliki militer yang tangguh serta ekonomi yang mapan. Mengadakan konfrontasi dengan negara-negara Barat secara terang-terang malah bisa menimbulkan mafsadat yang lebih besar terhadap negara Islam dan umat Islam itu sendiri, Allahu a’lam. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan barisan kaum muslimin, memberikan kekuatan atas musuh-musuh mereka, dan memuliakan keudukan umat Islam di muka bumi ini.

 

Sumber: Asy-Syabakah al-Islamiyah oleh Husein Mu’nis

Alquran Melunakkan Hati Yang Keras

Hajjaj

Kisah berikut ini adalah kisah tentang seseorang yang memiliki hati yang keras, mudah membunuh, zalim, dan sifat-sifat kejam lainnya, kisah ini adalah kisah Hajjaj bin Yusuf.

 

Hajjaj adalah gubernur Irak di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sebelumnya ia adalah gubernur Madinah. Hajjaj dikenal sebagai pemimpin zalim dan sangat mudah menumpahkan darah rakyatnya. Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Dia orang yang sangat zalim, tiran, amibisius, perfeksionis, nista, dan kejam. Di sisi lain ia adalah seorang yang pemberani, ahli strategi dan rekayasa, fasih dan pandai bernegosiasi, serta sangat menghormati Alquran.” Ada yang mengatakan, Hajjaj telah membunuh kurang lebih 3000 jiwa di antara nyawa yang ia hilangkan adalah seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair dan seorang tabi’in Said bin Jubair. Hajjaj wafat pada tahun 95 H.

 

Dengan rekam jejak yang kelam itu, sangat jarang kita mendengarkan kisah yang baik dari perjalanan kehidupan Hajjaj bin Yusuf. Namun siapa sangka, ternyata ia sangat mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Alquran.

 

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Hajjaj pernah berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, ‘Wahai anak Adam, sekarang kamu dapat makan, tapi besok kamu akan dimakan’. Kemudian dia membaca ayat, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

 

Kemudian ia menangis hingga air matanya membasahi surbannya. Inilah bahasa Alquran, inilah kalamullah, yang mampu menghancurkan gunung yang kokoh, karena takut dan tunduk kepada Allah.

 

 

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Seandainya Alquran ini Kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (QS. Al-Hasyr: 21)

 

Tafsir ayat:

 

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebuah kabar umum yang universal dan berlaku bagi seluruh makhluk, bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dalam firman-Nya disebutkan,

 

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فانٍ . وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

 

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar- Rahman: 26-27)

 

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, yang akan abadi dan kekal, dan Dia adalah Maha Akhir sebagaimana Dia yang Maha Awal.

 

Ayat ini mengandung peringatan bagi seluruh manusia, karena manusia pasti akan mati. Apabila batas waktunya berakhir, maka manusia akan dikembalikan kepada Rabb mereka dengan amalan mereka masing-masing. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kiamat dan akan membalas seluruh amal perbuatan semua makhluk. Oleh karena itu, setelah berfirman bahwa semua manusia akan mati, Allah lanjutklan firman-Nya

 

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)

 

Pelajaran dari kisah:

  1. Orang yang dikenal sangat zalim pun masih menangis mendengar ayat-ayat tentang kematian, bagaimana dengan kita? Apakah hati kita merasa takut dan bergetar ketika mendengar ayat-ayat tentang kematian? Atukah hati kita lebih keras dari pada gunung?

  2. Tidak boleh men-cap seseorang yang senantiasa berbuat keburukan sebagai penghuni neraka. Sebagaimana Hajjaj -kita serahkan kepada Allah keadaannya di akhirat-, dikatakan Hajjaj pernah berdoa di akhir hayatnya “Ya Allah ampunilah aku, walaupun manusia menyangka Engkau tidak mengampuniku.”

  3. Allah menjadikan Alquran itu mudah untuk ditadabburi bagi orang-orang yang ingin merenungkan kandungan maknanya.

  4.  Seseorang hendaknya mengamalkan apa yang ia ketahui dan ia dakwahkan. Sebagaimana Hajjaj yang mengetahui bahwa Allah akan menghisab amalan manusia, hendaknya ia berbuat kebaikan sebagai realisasi dari apa yang ia ketahui dan yakini.

  5. Hajjaj memang pemimpin yang zalim dan mudah membunuh, tapi dari sisi keyakinannya terhadap Alquran ia lebih baik daripada orang-orang liberal yang tampil bersahaja namun mengingkari ayat Alquran yang bertentangan dengan akal mereka dan menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Sumber: Tangisan Salaf Ketika Membaca dan Mendengarkan Alquran oleh Muhammad Syauman bin Ahmad ar-Ramali