Monday, November 11, 2013

Hidayah Allah Datang Kepadaku

kisah hidayah islam

A.H (nama inisial) adalah wanita berumur dua puluh tahun. Allah menginginkan kebaikan kepadanya, maka ia memberikan taufik dan hidayah kepadanya.

Ia menuturkan kisahnya:

Dahulu kehidupanku seperti kehidupan jahiliyah. Walaupun aku anak dari orang tua yang taat dalam melaksanakan ajaran Islam, namun saat itu aku tidak menjaga waktu-waktu shalat, hingga shalat subuh aku lakukan pada jam sepuluh.

 

Saudara-saudaraku begadang pada bulan Ramadhan untuk melakukan Qiyamullail (shalat malam) dan membaca Alquran, sedangkan aku menghidupkan malamku dengan menonton acara yang dimurkai Allah.

 

Pada suatu malam aku bermimpi sedang bermain dengan teman-temanku –yang buruk perangainya- seperti biasanya, tetapi tiba-tiba di hadapan kami lewat sekelompok orang yang membawa jenazah. Aku pun melihat kearah jenazah itu, sedangkan teman-temanku berusaha mengalihkan perhatianku dari jenazah itu. Aku berusaha mengikuti jenazah itu namun tidak bisa, lalu aku berlari dan terus berlari hingga aku menyusul jenazah itu. Ketika melewati jalan yang sukar dilalui aku tidak mampu meneruskan perjalanan, lalu aku menemukan kamar kecil yang gelap, maka aku memasukinya dan bertanya, “Tempat apa ini?”

 

Mereka berkata kepadaku, “Ini adalah kuburanmu. Inilah tempat kembalimu. Di sinilah umurmu berakhir.”

 

Aku lalu berteriak dengan suara yang keras. Rasanya aku ingin shalat dan ingin mengeluarkan air mata yang dapat menyelamatkanku dari adzab Allah yang pedih namun kemudian suara yang berasal dari belakangku berkata: “Mustahil, mustahil, telah habis umurmu sedangkan kamu tenggelam dalam kelezatan.”

 

Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku pada saat imam sedang melaksanakan shalat shubuh, dan ia membaca firman Allah Ta’ala:

 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

…

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)….” (QS. Al-Hadiid: 16)

Maha Suci Allah, perjalanan hidupku tercermin di hadapanku. Allah telah memberikan nikmatnya kepadaku agar aku bertobat kepada-Nya sebelum wafat, maka segala puji dan sanjungan hanya untuk Allah.

 

(Sumber: Air Mata Wanita yang Bertobat, karya majdi asy-Syahawi, pustaka cendekia sentra muslim, hal: 193. Diposting oleh Najib M. Fattah)

Yang Membuat Pemuda ini Menangis

pemuda yang sedih hatinya

Apa yang Membuat Pemuda ini Menangis?

Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.

 

Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.

 

Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.

Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.

 

Saya tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:

 

Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.

 

Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?’ ‘Kemana lagi aku harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?’ Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”

 

Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah,

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)

 

Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”

Pelajaran:

Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

 

Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.

Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,

 

أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟

 

“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”

 

Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:

 

الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها

 

“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).

 

Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits)

Wednesday, November 6, 2013

Kejahatan, Kehinaan di Dunia dan Kegelapan di Akhirat

kisah penuh hikmah

Dikisahkan bahwa ada beberapa pelayan raja yang menemukan anak kecil di jalan. Lantas mereka memungutnya. Raja memerintahkan mereka agar anak tersebut dirawat dan disatukan dengan keluarga raja. Raja pun menamainya Ahmad al-Yatim. Ketika anak tersebut mulai tumbuh dewasa, nampak pada dirinya tanda-tanda kepandaian dan kecerdasan. Lalu raja mendidiknya dan mengajarinya. 

 

Tatkala sang raja hendak meninggal dunia, beliau mewasiatkan anak tersebut kepada putra mahkota. Raja menggabungkan anak tersebut kepada putra mahkota, memilihnya dan mengambil janji agar dia menjadi orang yang setia dan menjadi pelayan yang jujur. Setelah itu, dia memulai pekerjaannya. 

 

Sehingga, dia menjadi kepala pelayan raja dan orang yang mengatur segala urusan istana.

 

Pada suatu hari raja memerintahkan agar dia mengambilkan seseuatu dari salah satu kamarnya. Dia pun bergegas untuk mengambilkan barang tersebut. Tiba-tiba dia melihat salah seorang dayang khusus raja bersama seorang pemuda dari kalangan pelayan kerajaan sedang berbuat kefasikan dan berbuat zina. Dayang itu memohon kepadanya agar merahasiakan kejadian itu.

 

Si dayang menjanjikan akan memberikan apa saja yang dia minta dan merayunya dengan menyerahkan dirinya. Tujuannya, agar si dayang selamat dari tindakannya (melaporkan kepada raja).

 

Lalu dia berkata kepada dayang tersebut, “Aku mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari berkhianat kepada raja dengan berbuat zina padahal beliau telah berbuat baik kepadaku.’ Kemudian dia meninggalkan dayang tersebut dan berlalu dengan tetap menyembunyikan rahasia tersebut. Akan tetapi, dayang tersebut merasa khawatir sendiri dan mengira bahwa Ahmad al-Yatim akan melaporkan perbuatannya kepada raja.

 

Dayang tersebut menunggu raja sampai beliau datang di istana. Kemudian dia menghadap raja sambil menangis dan mengadu. Lalu sang raja bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi. Si dayang menjawab bahwa Ahmad al-Yatim telah merayu dirinya bahkan dia memaksanya untuk berbuat zina.

 

Ketika sang raja mendengar hal tersebut, kontan beliau marah besar dan bertekad untuk membunuh Ahmad al-Yatim. Kemudian sang raja mengatur siasat untuk membunuhnya secara diam-diam, sehingga orang-orang tidak mengetahui pembunuhan tersebut serta penyebabnya. Dia berkata kepada anak buah seniornya, “Jika saya mengutus seseorang kepadamu dengan membawa nampan dan meminta kepadamu ini dan itu, maka penggallah kepalanya dan letakkan kepalanya pada nampan tersebut, lalu bawa potongan kepala itu kepadaku.” Anak buahnya pun menerima dan menyanggupinya.

 

Pada suatu hari raja memanggil Ahmad al-Yatim dan berkata kepadanya, “Temui fulan si pelayan dan katakan padanya, ‘Raja meminta ini dan itu.” Dia pun berangkat melaksanakan perintah raja tersebut.

 

Akan tetapi, di tengah jalan dia bertemu beberapa pelayan. Mereka ingin menjadikan Ahmad sebagai penengah di dalam suatu perkara yang terjadi di antara mereka. Ahmad al-Yatim meminta maaf dan berkata bahwa dia sedang mendapat tugas untuk melaksanakan perintah raja. Mereka berkata, “Kami akan mengutus seorang pelayan yang akan menggantikanmu untuk melaksanakan tugasmu. 

 

Sehingga, engkau dapat memutuskan persoalan di antara kita.”

 

Ahmad al-Yatim mengabulkan permintaan mereka. Lantas mereka mengutus salah seorang di antara mereka, yaitu pemuda yang telah berbuat zina dengan si dayang. Ketika dia sampai, pimpinan pelayan menariknya ke tempat yang telah dipersiapkan kemudian dia memenggal lehernya secara tiba-tiba, lalu dia letakkan potongan kepala tersebut di atas nampan dan ditutupi. Kemudian dia membawanya ke hadapan raja.

 

Ketika sang raja melihat nampan tersebut, dengan segera dia membuka tutupnya, maka dia melihat potongan kepala bukan kepala Ahmad al-Yatim. Selanjutnya raja memanggil Ahmad al-Yatim dan menanyakan tentang apa yang telah dilakukannya. Lantas Ahmad menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian raja bertanya, “Apakah kamu tahu dosa pelayan ini?” Dia menjawab, “Iya. Dia telah melakukan ini dan itu bersama seorang dayang. Keduanya meminta saya dengan bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar saya merahasiakan berita ini.”

 

Ketika sang raja mendengar hal itu, maka beliau memerintahkan agar si dayang dibunuh juga. Beliau kembali mencintai dan memuliakan Ahmad al-Yatim seperti sedia kala. Demikianlah akibat memenuhi janji dan ujung dari khianat.

 

“Rencana yang jahat hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. “ (QS. Fathir: 43)

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Ridha Manusia Itu Sesuatu Yang Tidak Mungkin Dicapai

kisah pelajaran bagus

Sering kita ketika melakukan suatu kebenaran, lalu kita khawatirkan perkataan orang; kalau saya pakai jilbab nanti dibilang ibu haji, kalau saya rajin ke masjid nanti dipanggil-panggil pak ustadz, akhirnya kita surut, langkah kita terhenti untuk melakukan kebenaran karena lebih memikirkan apa yang akan dikatakan orang. Padahal ketika kita melakukan perbuatan jelek dalam kaca mata syariat, kita pun tidak akan menuai pujian dari semua orang. Memakai baju kecil dan pendek, mungkin sebagian orang menyebut kita orang modern, tapi ada juga yang bilang kita tidak tahu malu dan dosa pun sudah pasti. Sebagaimana kisah berikut ini. 

 

Juha dan anaknya berada di dua ujung yang saling berlawanan. Setiap kali sang ayah menyuruhnya melakukan sesuatu, maka dia menentangnya dengan berkata, “Apa kata orang-orang tentang kita jika kita melakukan hal itu?”

 

Juha, sang ayah ingin memberi pelajaran yang bermanfaat untuk anaknya, agar dia berpaling dari mencari ridha semua orang. Sebab, ridha semua orang merupakan ujung yang tak terjangkau. Lantas Juha naik keledai dan menyuruh anaknya agar berjalan di belakangnya.

 

Baru berjalan beberapa langkah, mereka melewati beberapa perempuan, lalu perempuan tersebut memanggil Juha, “Apa-apaan ini, hai lelaki! Apa di hatimu tidak ada rasa kasih sayang. Engkau enak-enakkan naik kendaraan sementara engkau biarkan anak kecil berlari kelelahan di belakangmu.”

Lalu juha turun dari keledainya dan menyuruh anaknya naik keledai. Mereka melewati sekelompok orang tua duduk di bawah terik matahari.

 

Salah seorang di antara mereka menepukkan kedua telapak tangannya. Pandangan orang-orang lainnya mengarah kepada ‘laki-laki bodoh’ yang berjalan kaki dan membiarkan anaknya naik kendaraan. Dia mencaci maki lelaki tersebut dengan ucapan, “Wahai laki-laki! Kamu berjalan kaki padahal kamu orang tua sementara kamu biarkan kendaraan untuk anak ini. Setelah itu kamu ingin mengajarinya malu dan tatakrama.”

 

Juha berkata kepada anaknya, “Apa kamu dengar itu? Kalau begitu mari kita naiki keledai ini bersama-sama.”

 

Mereka berdua pun naik keledai dan lewat di jalanan. Keduanya berpapasan dengan sekelompok orang yang dapat disebut anggota ‘organisasi penyayang binatang’. Mereka berteriak kepada Juha dan anaknya, “Apa kalian berdua tidak bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terkait dengan binatang kurus ini? Apa kalian tega menungganginya bersama-sama padahal timbangan kalian berdua lebih berat dari pada timabangan keledai?”

 

Juha dan anaknya pun turun dari keledai. Juha berkata, “Kamu dengarkan? Kalau begitu, ayo kita berdua berjalan kaki bersama dan kita biarkan keledai ini berjalan sendiri di depan kita agar kita terhindar dari omongan miring kaum lelaki, perempuan, dan pecinta binatang.”

 

Mereka berdua pun berjalan kaki sedangkan keledai berjalan sendiri di depan mereka. Lantas mereka berdua berpapasan dengan sekelompok orang buruk dan pandai. Mereka menjadikan Juha dan anaknya sebagai obyek gurauan dan ejekan.

 

Mereka berkata, “Demi Allah, sepantasnya keledai ini menaiki kalian berdua untuk mengistirahatkannya dari kelelahan di jalan.”

 

Selanjutnya Juha mendengar perkataan orang-orang ini, lalu dia dan anaknya menuju suatu pohon di jalan. Mereka berdua memotong dahan yang kuat dan mengikatkan keledai tersebut padanya. 

 

Kemudian Juha memikul salah satu ujung dahan sedangkan anaknya memikul ujung yang lainnya.

 

Ketika mereka belum sampai berjalan beberapa langkah, ternyata di belakang mereka terdapat sekelompok orang tertawa karena melihat pemandangan yang tiada duanya ini yaitu ketika seseorang menggiring Juha, anaknya, dan keledainya ke tempat orang-orang gila (rumah sakit jiwa).

 

Ketika Juha sampai di rumah sakit jiwa, maka dia harus menjelaskan kepada anaknya inti dari uji coba yang telah sampai pada puncaknya ini. Lalu dia menoleh kepada anaknya seraya berkata, “Wahai anakku! Inilah akibat dari mendengar omongan orang dan melakukan sesuatu untuk mencari ridha semua orang.”

 

Hal ini menjadi pelajaran yang dipetik oleh anak Juha dan menjadi sejarah buat kita.

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Perdamaian di Hari Kiamat

 kisah muslim

Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

 

“Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk, tiba-tiba kami melihat beliau tersenyum sehingga gigi seri beliau terlihat. Lantas Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada beliau, ‘Apakah gerangan yang membuat Anda tersenyum wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ada dua laki-laki di kalangan umatku yang berlutut di hadapan Rabbul Izzah. 

 

Salah satunya berkata, ‘Ya Rabb! Ambilkan (pahala) untukku atas kezhaliman yang dilakukan oleh saudaraku pada diriku.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Bagaimana engkau akan lakukan hal tersebut terhadap saudaramu, padahal tidak ada sedikit pun amal kebaikan yang masih tersisa pada dirinya.’ Dia berkata, ‘Hari itu adalah hari yang agung, hari-hari ketika orang-orang butuh agar dosa-dosanya dipikulkan.’

 

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada lelaki yang memohon tersebut, ‘Angkatlah pandangan matamu dan lihatlah!’ Dia pun mengangkat pandangan matanya. Dia berkata, ‘Ya Rabb! saya melihat beberapa kota dari emas dan gedung-gedung dari emas yang bermahkotakan mutiara. Untuk nabi siapakah ini semua, atau untuk orang jujur yang manakah ini semua, atau untuk orang yang mati syahid mana ini semua?’ Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, ‘Bagi orang yang memberikan tiketnya.’ Dia bertanya lagi, ‘Ya Rabb! Siapa yang dapat memiliki tiketnya?’ Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, ‘Kamu dapat memilikinya.’ ‘Dengan apa?’ lanjutnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dengan memaafkan saudaramu.’ Dia berkata, ‘Sungguh, saya memaafkan saudaraku.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Peganglah tangan saudaramu! Bawalah dia masuk ke dalam surga!’

 

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan ketika itu, ‘Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendamaikan di antara kaum muslimin’.”

(HR. al-Hakim dan al-Baihaqi di dalam al-Ba’ts dan dia berkata bahwa hadits ini sanadnya shahih).

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

kisah cinta indah

Diriwayatkan bahwa Hatim al-Asham pernah berkata kepada putra-putranya, “Saya hendak pergi haji.” Putra-putranya pun menangis seraya berkata, “Lantas siapa yang akan menanggung kami?” Beliau juga mempunyai seorang anak perempuan. Kemudian anak perempuan tersebut menanggapi, “Biarkanlah ayah pergi. Beliau bukanlah Dzat Yang Maha Memberi rezeki.” Akhirnya Hatim pun berangkat.

 

Ternyata semalaman anak-anak tersebut kelaparan. Mereka pun mendamprat sang anak perempuan. Lalu anak perempuan pun berdoa, “Ya Allah, janganlah engkau membuatku malu di depan mereka!” Tiba-tiba seorang penguasa suatu daerah melewati mereka.

 

Dia berkata kepada sebagian anak buahnya, “Carikan air untukku!” Lalu keluarga Hatim memberikan gelas baru dan air dingin, dan sang penguasa itupun meminumnya. Kemudian si penguasa tersebut bertanya, “Rumah siapa ini?” Mereka menjawab, “Rumah Hatim al-Asham.” Lalu penguasa tersebut melemparkan sabuk emas sambil berkata, “Barangsiapa senang denganku, maka ikuti aku!” Para prajuritnya pun melemparkan benda-benda yang dibawa mereka ke suatu wadah. Anak perempuan tersebut menangis, lalu ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan pada kita.” Dia menjawab, “Hanya karena makhluk yang melihat kita saja, mereka telah mencukupi kita maka bagaimana Sang Khaliq yang melihat kita?”

 

Ibnu Ubbad ash-Shairafi al-Baghdad mengisahkan, “Suatu ketika saya sedang tidur. Tiba-tiba ada seseorang berkata kepadaku di dalam mimpi, ‘Wahai Ubbad! Tolonglah orang yang teraniaya!’ Saya bertanya, ‘Di mana orangnya?’ Dikatakan kepadaku, “Tunggangilah kendaraanmu. Orang tersebut di tempat kendaraanmu berhenti.’ Lalu saya terbangun dari tidurku. Kemudian saya menunggangi kendaraanku. Saya melintasi sela-sela jalan sempit kota Baghdad sehinga saya sampai di suatu masjid, tiba-tiba kendaraan saya berhenti. Saya pun turun dari kendaraan dan masuk ke dalam masjid. 

 

Ternyata di dalamnya ada seorang laki-laki menghadap ke arah kiblat. Lantas saya mengucapkan salam keapdanya dan berkata, ‘Apa yang bisa saya bantu untukmu?’ Dia menjawab, ‘Saya mempunyai keluarga. Dan malam ini tidak ada sesuatu pun buat mereka. Makanya, saya duduk di sini memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi kelapangan.’ Ubbad melanjutkan kisahnya. ‘Lalu saya memberinya seratus dinar dan saya berkata kepadanya, ‘Saya Ubbad ash-Shairafi. Jika kamu butuh sesuatu, datanglah padaku.’ Lelaki tersebut berujar, ‘Subhanallah, saya meninggalkan Dzat yang membangunkanmu dari tempat tidurmu dan mendatangkan kepadaku di malam yang gelap, justru aku menghadap kepada selain-Nya.’ Selanjutnya saya berpamitan kepadanya dan saya pulang.”

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Yang Langka, Jenaka, dan Pilihan

kisah unik dan jenaka

Seorang yang miskin meminta kepada orang pedalaman agar kebutuhannya dipenuhi. Orang pedalaman tersebut berkata, “Saya tidak mempunyai apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Harta yang saya punya, saya sendirilah yang paling berhak menggunakannya. Si peminta berkata, “Di manakah orang-orang yang mengutamakan (orang lain) daripada dirinya sendiri?” Orang pedalaman pun menimpali. “Mereka pergi bersama orang-orang yang tidak meminta secara paksa kepada orang lain.”

 

Ada orang bodoh –dia menghindari ghibah (menggunjing)- saking menghindarinya, ia pun menjadi orang yang berlebihan. Ia ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang iblis?” Dia menjawab, “Saya sering mendengar pembicaraan mengenai Iblis. Allah yang Maha Mengetahui rahasia iblis.

 

Seorang laki-laki berangkat untuk berjuang di jalan Allah. Dia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ada sebagian perempuan yang lemah iman berkata kepada istri pejuang tersebut, “Wahai ibu yang miskin! Siapa orang yang akan membiayai keluargamu serta merawat anak-anakmu jika ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan suamimu meninggal dunia dan tercatat sebagai orang yang mati syahid?” Perempuan mukminah itu pun berkata lantang dengan penuh kemantapan, keimanan, dan ketenangan, “Sungguh, yang saya tahu suamiku adalah tukang makan. Saya tidak mengenal dia sebagai pemberi rezeki. Jadi, apabila tukang makan meninggal dunia, maka Sang Pemberi Rezeki masih tetap hidup.”

 

Pada suatu hari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu terdiam di depan Ka’bah, lalu dia berkata kepada para sahabatnya, “Bukankah jika seseorang hendak melakukan perjalanan, pastinya dia mempersiapkan bekal?” Mereka menjawab, “Iya, benar.” Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Padahal perjalanan akhirat lebih jauh daripada perjalanan kalian ini.” Mereka pun berkata, “Tunjukkan kepada kami bekal untuk ahirat!” Dia berkata, “Lakukanlah ibadah haji untuk menghadapi hal-hal besar, laksanakanlah shalat dua rakaat di malam yang gelap untuk menghadapi kesulitan di alam kubur, dan berpuasalah pada hari yang sangat terik untuk menghadapi lamanya hari kiamat.”

 

Al-Jahizh, seorang penulis, ahli sastra Arab terkenal adalah seorang yang buruk rupa, tetapi dia sombong meskipun tentang fisiknya. Al-Jahizh pernah bercerita mengenai dirinya sendiri. Dia berkata, “Saya pernah berdiri di depan pintu rumahku, lalu ada seorang perempuan yang menghampiriku.” Perempuan tersebut berkata, “Saya butuh kepadamu. Saya ingin engkau ikut bersamaku untuk suatu kepentingan.” Al-Jahizh melanjutkan ceritanya, “Saya pergi bersamanya sehingga kami sampai ke toko emas. Lalu perempuan tersebut berkata kepada tukang emas, ‘Seperti ini,’ sambil menunjuk ke arahku. Kemudian dia meninggalkanku dan pergi. Lalu saya bertanya kepada tukang emas, ‘Apa maksud dari perkataan perempuan tersebut?” Tukang emas menjelaskan, “Perempuan tersebut pernah membawa batu mata cincin kepadaku dan menyuruhku agar aku melukiskan gambar setan di atasnya, lalu saya berkata kepadanya, “Wahai nona! Saya belum pernah melihat setan sama sekali.’ Lantas dia datang lagi membawamu dan mengatakan apa yang telah kamu dengar tadi.”

 

Isham bin Yusuf melewati Hatim al-Asham di majelis pengajiannya, lalu Isham bertanya, “Wahai Hatim! Apakah kamu melaksanakan shalat dengan baik?” Dia menjawab, “Iya.” Isham bertanya lagi, “Bagaimana tata caramu melaksanakan shalat?” Hatim al-Asham menjawab, “Saya berdiri berdasarkan perintah, saya berjalan dengan rasa khasyyah (takut kepada Allah), saya masuk (ke dalam shalat) dengan niat, saya bertakbir dengan mengagungkan, saya membaca Alquran dengan tartil dan memikirkan artinya, saya melakukan ruku’ dengan khusyuk, saya bersujud dengan tawadhu, saya duduk tasyahhud dengan sempurna, saya mengucap salam dengan berniat, saya mengakhiri shalat dengan ikhlash kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya kembali pada diri sendiri dengan rasa takut, saya takut bila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalatku. Saya menjaganya dengan susah payah sampai mati.” Isham berkata, “Ya sudah, bicaralah. Engkau melaksanakan shalat dengan baik.”

 

Juha sedang pergi ke pasar untuk membeli keledai. Dia bertemu temannya. Temannya bertanya, “Kamu mau pergi ke mana?” Juha menjawab, “Ke pasar untuk membeli keledai.” Temannya berkata, “Katakanlah, ‘Insya Allah’.” Juha menanggapi, “Hal ini bukan tempatnya mengucapkan insya Allah. Di sakuku ada uang, sedangkan keledai ada di pasar.” Ternyata, ketika dia telah berada di pasar, tiba-tiba uangnya dicuri orang. Dia pun pulang dengan menyesal, lalu temannya bertanya kepadanya, “Hai Juha, mana keledainya?” Dia menjawab, “Insya Allah, uangku dicuri orang.”

 

Ada seorang yang bodoh melihat ke sumur. Dia melihat wajahnya di dalam sumur. Lalu dia kembali menemui ibunya, “Hai ibu, di dalam sumur ada pencuri.” Lantas ibunya datang dan melihat sumur. Dia berkata, “Iya, benar di dalam sumur ada pencuri beserta pelacur.” (ungkapan sindiran atas kebodohan anaknya.)

 

Seorang laki-laki berkata kepada Hisyam al-Quthi, Kam ta’uddu (Berapa kamu menghitung)?” Hisyam menjawab, “Dari satu sampai satu juta bahkan lebih banyak lagi.” Dia berkata, “Bukan itu maksudku.” Hisyam menimpali, “Lalu apa yang kamu maksud?” Dia berkata lagi, “Kam tau’ddu minas sinni (Berapa hitungan gigi)?” Hisyam menjawab, “Ada tiga puluh dua. Yang enam belas di bagian atas dan enam belas lagi di bagian bawah.” Dia berkata, “Bukan itu yang aku kehendaki dan aku maksud.” Hisyam menimpali, “Lalu apa yang kamu maksud?” Dia berkata lagi, “Kam laka minas sinin (Berapa banyak gigimu)?” Hisyam menjawab, “Saya tidak mempunyai sedikit pun. Semuanya milik Allah ‘Azza wa Jalla.” Dia berkata lagi, “Fa ma sinnuka (Apa gigimu)?” Hisyam menjawab, “Tulang.” Dia berkata lagi, “Faibnu kam anta (kamu ini anak berapa orang)?” Hisyam menjawab, “Anak dua roang, yaitu Ayah dan Ibu.” Dia berkata lagi, “Fa kam ata alaika (berapa banyak yang membinasakanmu)?” Hisyam menjawab, “Katakanlah, ‘Kam Madha min umrika (Berapa banyak umurmu yang telah berlalu)’?”

 

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang mempunyai keinginan kuat untuk shalat berjamaah. Kemudian ada salah seorang yang tidak ikut shalat berjamaah memasuki rumahnya, dan menzinai istri pemilik rumah tersebut. Tiba-tiba ada anjing yang melompat menyerang keduanya sehingga keduanya mati. Kemudian pemilik rumah pulang dan mendapati keduanya telah tidak bernyawa.

 

Lantas dia mendendangkan syair berikut:

 

Anjing selalu memelihara tanggung jawabnya kepadaku, melindungiku, dan menjaga janjiku. 

 

Sedangkan kekasih malah berkhianat.

 

Sungguh heran, seorang kekasih malah merusak kehormatanku

 

Dan sungguh heran terhadap anjing bagaimana ia dapat menjaga

 

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berbincang-bincang dengan seseorang. Beliau bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Jamrah (bara api).” Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Anaknya siapa?” “Anak Syihab (cahaya api)” jawabnya. Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kamu dari golongan siapa?” Dia menjawab, “Dari Hurqah (kebakaran).” Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Di mana tempat tinggalmu?” Dia menjawab, “Di daerah Harratin Nar (panasnya api).” Tepatnya di sebelah mana, “Di daerah Dzati Lazha (yang mempunyai nyala api).” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Segera susul keluargamu. Mereka mengalami kebakaran.” Lelaki itupun bergegas menuju ke rumahnya. Dan ternyata memang terjadi seperti apa yang disampaikan Umar radhiyallahu ‘anhu.

 

Al-Ahsmu’i berkata, “Saya pernah berkata kepada seorang anak muda dari kalangan anak-anak Arab, ‘Apakah kamu senang jika kamu mempunyai seratus ribu dirham, tetapi kamu bodoh?” Dia menjawab, “Demi Allah, tidak.” Saya bertanya lagi, “Mengapa?” Dia menjawab, “Saya khawatir kebodohanku berbuat jahat kepadaku, sehingga hartaku lenyap dan tinggal bodohnya saja.”

 

Hakim berkata, “Jauhilah tujuh perkara, niscaya ragamu dan hatimu akan merasa lega. Di samping itu, kehormatanmu dan agamamu akan selamat.

 

Janganlah engkau bersedih atas sesuatu yang hilang dari dirimu.

 

Jangan memikul kesedihan atas sesuatu yang belum terjadi.

 

Janganlah engkau mencela orang atas sesuatu yang ada pada dirimu yang sama dengan orang lain.

 

Jangan engkau minta imbalan atas sesuatu  yang tidak pernah engkau lakukan.

 

Janganlah engkau marah kepada orang yang tidak terpengaruh dengan kemarahanmu.

 

Janganlah engkau memuji orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya tidak sesuai dengan apa yang dipujikan kepadanya.”

 

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tiada suatu musibah yang menimpaku melainkan aku melihat ada tiga hikmah di baliknya yang merupakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku. Pertama, musibah ini tidak terkait dengan agamaku. Sebab, musibah mengenai agama merupakan musibah besar. Terkadang dengan musibah ini seseorang merugi di dunia dan akhirat. Kedua, musibahnya tidak lebih besar dari itu. Tidak ada satu pun musibah melainkan ada yang lebih besar lagi. Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kesabaran kepadaku untuk menghadapinya. Sungguh, kesabaran dan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan penyumbat rasa aman yang dapat meringankan musibah yang menimpa.”

 

 

Seorang lelaki thufaili (orang yang suka ikut-ikutan dalam suatu jamuan makan tanpa diundang) melihat serombongan orang yang sedang bepergian. Dia mengira bahwa rombongan tersebut hendak menghadiri undangan walimah (jamuan makan). Dia pun mengikuti mereka. Selidik punya selidik, ternyata mereka adalah rombongan penyair yang hendak mendatangi raja. Ketika masing-masing penyair telah mendendangkan syairnya dan mengambil hadiahnya, maka tersisalah lelaki thufaili tadi. Dia hanya duduk terdiam. Lalu dikatakan kepadanya, “Ayo dendangkan syairmu!” Dia menjawab, “Saya bukan seorang penyair.” Dia ditanya, “Lalu kamu siapa?” Dia menjawab, “Termausk orang-orang yang sesat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.” (QS. Asy-Syu’ara: 224)

Kontan sang raja tertawa atas jawaban tersebut. Dia memerintahkan agar lelaki tersebut juga diberi hadiah.

 

 

Al-Aqra’ bin Habis (salah satu amir di negeri Islam) menghadap Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ternyata dia mendapati Umar radhiyallahu ‘anhu sedang bermain dengan anak-anaknya. Anak-anaknya bergantungan di lengannya dan di atas punggungnya. Lantas al-Aqra bertanya, “Apa-apaan ini, wahai Amirul Mukminin? Apakah memang seperti ini yang Anda lakukan bersama anak-anak Anda?” Umar bangun dan bertanya kepada al-Aqra’, “Hai al-Aqra’, kamu sendiri apa yang kamu lakukan di rumah?” Dia menjawab, “Ketika aku masuk rumah, orang yang berdiri langsung duduk, orang yang berbicara langsung diam, dan orang yang tidur langsung bangun. Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Lantas Umar berkata, “Kalau begitu kamu tidak layak menjadi penguasa bagi kaum muslimin.” Selanjutnya Al-Aqra dipecat.

 

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1